Rabu, 21 September 2022

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

 

Ilustrasi gambar

Gambar merupakan ilustrasi 

Tulisan: Subartono 

Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Bukan lagi hal yang asing untuk di kalangan remaja. Sehingga saat ini banyak anak muda yang telah kehilangan cita-cita, visi dan semangat dalam hidupnya dikarenakan seks bebas yang semakin merajalela dikalangan remaja saat ini.

Bukti yang nyata tentang problem generasi bangsa hari ini dapat kita lihat disalah satunya dari laporan komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI). Data tersebut sering sekali dijumpai sebagai bahan pertimbangan besar kita, meskipun data ini sudah lama.

Laporan KPAI dari Januari sampai Juli 2022 tercatat 12 kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan yang terjadi di 3 sekolah (25 persen) dalam wilayah KemendikbudRistek dan 9 (75 persen) di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama. Rentang usia korban antara 5-17 tahun

Kekerasan seksual terjadi di tingkat SD sebanyak 2 kasus, tingkat SMP 1 kasus, pondok pesantren 5 kasus, madrasah tempat mengaji atau tempat ibadah 3 kasus, serta tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD 1 kasus. Ternyata pada 12 kasus kekerasan seksual tesebut berjumlah 52 anak, di mana 31 persen yang terjadi kalangan anak laki-laki, dan 69 persen pada anak perempuan.

Menurut Rubenstein (dalam Collier,1998) kekerasan seksual didefinisikan sebagai sifat atau perilaku seksual yang tidak diinginkan atau tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung penerima.

Sehingga perlunya ada tindakan yang kita lakukan untuk mencegah sebelum terjadinya tindakan kekerasan seksual agar kurangnya depresi dikarenakan kasus tersebut.

Dalam hal pencegahan kekerasan seksual perlunya pemahaman yang mendalam sehingga perlu ada namanya mata pembelajaran seksual. Bagian informasi penting yang harus perlu diketahui oleh anak melalui pelajaran seputar yang bersifat seksual, maka anak-anak akan mampu bisa lebih memahami pentingnya seksualitas sebagai bagian dari kesehatan tubuh, bukan sekadar hubungan antara pria dan wanita.

Berkembangnya teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini, maka penting bagi anak untuk mendapatkan pendidikan seks yang akurat dan tepat sejak dini. Jangan sampai anak-anak kata sudah terlanjur mendapatkan informasi yang seputar seks dari beberapa sumber yang tidak dapat dipercaya, misalnya teman sebaya atau diinternet.

Anak perlu mengetahui bahwa sebagai orangtua bisa diajak berdiskusi seputar pengetahuan atau pemahaman seksual. Pada saat anak-anak telah diberikan edukasi seks atau pemahaman seksual sejak dini, maka di masa remaja ia pun tidak merasa canggung dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Apalagi anak sekolah telah memasuki ranah perkembangan remaja, kemungkinan besar ia mempunyai pertanyaan yang lebih spesifik mengenai seks. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikan dengan tepat baik di usia dini maupun saat masuk usia pubertas. Edukasi seks pada anak juga tidak hanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan organ seksual semata. Namun juga berhubungan dengan kepemilikan dan kenyamanan tubuh.

Senin, 19 September 2022

In Memoriam Prof DR Azyumardi Azra; Kontribusinya Pada Pembukuan S3 PPS UIN Alauddin Makassar



Penulis : Ahmad M. Sewang

Mohon maaf, tulisan berseri yang saya janjikan tertunda sementara karena diintrupsi tulisan untuk mengenang in memoriam atas wafatnya guru saya Prof. Dr. Azyumardi Azra. Bagi saya moment pertemuan pertama dengan beliau sangat bersejarah. Jika sejarah hanya mencatat hal yang unik, maka pertemuan dengan beliau termasuk unik. 

Beliau baru kembali dari Amerika Serikat menyelesaikan studinya, sementara saya sedang ingin ujian akhir penyelesaian studi S3 di PPs IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam waktu yang sama Direktur PPs Jakarta, Prof. Dr. Harun Nasution, sedang mencari penguji yang sejarawan, maka ditunjuklah Prof. Azyumardi sebagai penguji. Di mana letak keuniknya? Sebab itulah beliau baru pertama kalinya menguji disertasi di PPs Jakarta sejak pulang dari studi.

Ketika Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A. terpilih sebagai Rektor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Azyumardi dinominasikan  sebagai Wakil Rektor I. namun Azyumardi meminta kesempatan selama tiga hari untuk berpikir. Setelah tiga hari Prof. Quraish bertanya kepada Azyumardi tentang kesiapannya. Kelihatanya Prof. Azyumardi justru meminta orang lain, "Biarlah orang lain yang ditujuk," kata Azyumardi. Namun, Prof. Quraish bertanya, "Apakah Azyumardi PNS?" Azyumardi menjawab, "Ya, tentu saja." Prof. Quraish berkata tegas, "Sebagai pimpinan, saya memerintahkan kamu untuk membantu saya sebagai WR I." Demikian cerita Asyumardi di sebuah artikel sekaligus menunjukkan beliau bukan seorang yang ambisius.

Prof. Quraish langsung memberi dua tugas pada Azyumardi, yaitu,

1. Keliling mencari founding untuk merehabilitasi Kampus Syarif Hidayatullah sebagai kampus modern.

2. Mengubah IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan merancang pedoman integrasi keilmuan. Alhamdulillah, berkat rintisan Prof. Azyumardi, sekarang ini sudah berdiri 29 UIN seluruh Indonesia.

Ketika saya kembali ke Makassar, saya diberi amanah sebagai Asdir II IAIN Alauddin Makassar.  Direktur PPs waktu itu Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah sedang merancang pendirian program S3. Sedang Asdir I Prof. Rafii Yunus, M.A., Ph.D., sudah konsentrasi untuk mendapat tugas baru sebagai Pimpinan Pusat Asadiyah di Sengkang, maka saya ditugaskan menyelesaikan proposal S3 oleh Rektor, Prof. Dr. Ashar Azhar, M.A. Di sini saya bertemu kembali Prof. Azyumardi Azra yang diberi tugas Menteri Agama RI, memeriksa  kelengkapan persyaratan pendirian S3. Sekalipun saya harus bolak-balik antara Makassar dan Ciputat bertemu Prof. Azyumardi, alhamdulillah dalam waktu tidak lama, yaitu tahun 2002, Menteri Agama RI, Prof. Dr. Agil al-Munawwar datang di Makassar bersama Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Qadri Azizi untuk meresmikan S3 sekaligus menyumbang software Dicital Library. Saya sungguh bergembira, sebab menurut informasi yang sampai ke saya bahwa alumni S3 sekarang sudah berjumlah 1023 orang per September 2022. Alumni tersebut tersebar di seluruh Indonesia, khusus Indonesia bagian Timur.

Setelah saya melihat kelambatan proses pendirian STAIN Majene, saya sampaikan kepada Prof. Azyumardi, beliau spontan menjawab, "Saya ingin sekali membantu. Sayang saya sudah tidak lagi sebagai deputi dan staf khusus Wakil Presiden." Artinya, beliau ringan hati untuk membantu dalam masalah kemajuan sebuah pendidikan.

Itulah in memoriam saya dengan seorang ilmuwan, guru sejati, istiqamah serta toleransi dalam bersikap. Beliau cukup berjasa dalam pendirian S3 di PPs UIN Alauddin Makassar.

Akhirnya, kepada almarhum saya mengucapkan, "Selamat jalan guru dan sahabatku saya yakin Allah swt. akan menempatkan di tempat terpuji sesuai amal ibadahmu. Saya pun berdoa semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah menerima musibah ini. Kita semua mencintaimu, tetapi nampaknya Yang Maha Pemilik lebih mencintaimu dan keputusan itulah terbaik yang harus diterima.

Jumat, 30 Oktober 2020

Manusia Memikul Nasib Tertentu, Disisi Manusia Selalu Mengalami Kejatuhan

 


Di tengah globalisasi informasi dan ekonomi pasar, kerumunan nomad pemuja tubuh, petarung kapital, Pejuang karir, dan penjilat kekuasaan telah mengubur kecemasan eksistensial mereka, yang menyembul dari kolam keseharian ke dalam timbunan kesibukan. 

       Manusia memang memikul nasib tertentu, disatu sisi manusia selalu mengalami kejatuhan, yakni larut dalam keseharian, dan karena itu terasing dari adanya. Namun disisi lain, manusia adalah makhluk penanya adanya. 

Menurut Heidegger, kecemasan yang menyembul keluar dari keseharian itulah perigi mistik digurun nihilisme pada zaman yang tidak religius. Kecemasan menelanjangi manusia sebagai ada yang terlempar dan menuju kematian, sekaligus memberi tawaran untuk bermukim dalam rumah eksistensi. 

       Mistik keseharian mungkin terdengar ganjil. Tetapi persis inilah yang dilakukan oleh Heidegger dalam Sein Und Zeit (ada dan waktu, 1927); menjernihkan keseharian sehingga dasar-dasarnya menjadi tampak dihadapan kesadaran. Sein Und Zeit merupakan pisau eksistensial untuk membedakan yang otentik dan inotentik yang banal dan yang radikal bertolak dari keseharian kita. 

       Descartes menghimpun segenap refleksi pada problem kesadaran yang di sebutnya subjek atau cogito. Rasio adalah Pusat realitas, Observasi menjadi pegangan kebenaran, manusia adalah subjek sejarah dan seterusnya. 

Pemikiran yang berpusat pada subjek ini dianggap bertanggung jawab atas segala efek negatif yang muncul di zaman modern; bencana lingkungan akibat eksploitasi alam yang tak terkendali, atau manipulasi dan represi manusia atas manusia lain.

Senin, 19 Oktober 2020

Melihat Dengan Perspektif Teologis Bahwa Wanita PSK Itu Adalah Ketentuan Tuhan

     


    Realitas yang paling pahit yang harus diterima seorang PSK adalah implikasi dari cercaan para ulama dan birokrat yaitu teralienasi dari masyarakat disekitarnya. Dia akan dikucilkan dari kehidupan yang memang sudah timpang ini. Namun ironisnya ketika kita mempertanyakan kepada para ulama dan sekutunya (birokrat) terkait hal mengapa jutaan perempuan-perempuan PSK harus hidup dengan hasil menjajahkan tubuhnya, kita akan mendengar ocehan para ulama bahwa itu sudah takdirnya, sudah keputusan Tuhan yang tak bisa diganggu gugat lagi bahwa mereka akan menjadi PSK. Lain lagi ocehan para birokrat dan pengusaha yang (perutnya semakin membesar dan sambil tertawa) berceloteh bahwa itu karena mereka sendiri yang malas dan tidak mempunyai skill, karena mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan dan malas berusaha, pokoknya itu adalah kesalahan mereka sendiri.

      Mungkin kita harus terus bertanya kepada sekelompok orang yang merasa sebagai wakil tuhan itu, bahwa sekiranya perempuan yang berprofesi sebagai PSK itu merupakan takdir Tuhan yang harus diterima, lantas mengapa para ulama itu harus menyibukkan dirinya melakukan demonstrasi untuk menutup tempat-tempat hiburan malam (THM), Mengapa pula para ulama itu harus memberikan stempel sesat dan kafir dijidat perempuan-perempuan yang melakoni profesi PSK? bukankah semua itu adalah bentuk penolakan terhadap ketentuan Tuhan? kepada para birokrat kita akan bertanya benarkah bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang malas berusaha dan tidak berpendidikan? bukan kah realitasnya bahwa mereka juga ingin bersekolah namun dengan terpaksa mengurungkan niatnya lantaran biaya pendidikan dan biaya hidup yang semakin membumbung tinggi?, tidakkah engkau lihat bahwa lapangan kerja semakin sempit lantaran banyaknya corporasi-corporasi raksasa milik asing yang memarjinalkan masyarakat pribumi?, Tidakkah engkau melihat langkah kaki gontai jutaan karyawan/wati yang pulang kerumah lantaran di PHK?, Bukankah kalian juga sering meinggalkan tugas kalian sebagai representasi rakyat dan justru berada di tempat-tempat THM?. Bukankah sebagian besar investasi Negara bersumber dari hasil pajak THM? Lantas mengapa engkau masih berkelit bahwa itu karena kemalasan mereka? Rasanya saya ingin meneriakkan kembali kegundahan Mas Eko Prasetyo yang berkata”orang miskin dilarang sekolah”.

    Pembaca yang budiman melalui tulisan yang ringkas ini kita akan mencoba menganalisis secara kritis fenomena para perempuan yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Benarkah klaim para ulama yang melihat dengan perspektif teologis bahwa itu adalah ketentuan Tuhan, atau hanya merupakan dalih para ulama untuk melepaskan diri dari tanggung jawab Tauhid sosialnya? Benarkah klaim para birokrat bahwa itu adalah karena kesalahan mereka atau hanya dalih para birokrat untuk berkelit dari ketidakberpihakannya terhadap kaum miskin? Atau mungkin ada factor lain yang sangat signifikan sehingga menggiring para wanita kedunia PSK. 

    Sekiranya benar klaim para ulama yg berkesadaran magic bahwa fenomena PSK merupakan takdir Tuhan, maka saya adalah orang yang pertama berdemonstrasi di hadapan Tuhan kelak jika para PSK ini dijebloskan keneraka. Seharusnya konsep surga-neraka beserta konsep pahala dan dosa ditiadakan karena Tuhan lah yang menyebabkan manusia berbuat dosa. Apakah ada seorang wanita yang ketika dia kecil bercita-cita sebagai PSK,dan seumur hidupnya berdoa agar dirinya menjadi seorang PSK.Tampaknya kita harus dengan tegas menjawabnya “tidak ada”, lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK?. Sesungguhnya fenomena PSK adalah salah satu dampak dari diterapkannya system kapitalisme dan neo-liberalisme di negeri ini. 

     Kaum miskin tidak akan mampu berkompetisi dengan kaum kaya lantaran kemenangan ditentukan dari banyaknya uang. Neo-liberalisme meniscayakan terjadinya swastanisasi dan komersialisasi semua kebutuhan primer rakyat yang merupakan asset Negara. Seperti pendidikan dan kesehatan yang semula merupakan milik Negara yang dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat kini menjadi komoditi yang dikuasai oleh kaum pemodal, sehingga sekali lagi Eko Prasetyo berceloteh”orang miskin dilarang sekolah dan dilarang sakit” lantaran rumah sakit dan sekolah kini menjadi milik orang-orang kaya. BBM yang semakin langkah dan makanan pokok yang semakin mahal seiring dengan makin mahal dan langkahnya kejujuran adalah salah satu dampak diterapkannya system kapitalisme dan Neo-liberalisme. Lain lagi dengan income/pendapatan yang diterima oleh Negara dengan dibukanya tempat komoditi manusia ( THM ), sehingga sebenarnya pemerintah lah yang paling bertanggung jawab atas makin maraknya fenomena PSK.

     Mereka yang menggiring perempuan-perempuan berprofesi sebagai PSK,dengan menciptakan kebijakan-kebijakan sulap atau kebijakan yang tidak berpihak terhadap kaum miskin seperti kapitalisme dan neo-liberalisme sesungguhnya pemerintah sedang mengarahkan para perempuan untuk beralih profesi dari “Ibu rumah tangga menjadi pelayan rumah bordil". Zainal Abidin advokat asal Palopo (Sul-Sel) pernah mengadvokasi beberapa PSK di lokalisasi Dolly Surabaya. Setelah selesai ceramah PSK itu ditanya perihal apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK. Dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan air mata, para PSK itu menjawab” sekiranya ada pekerjaan lain yang mana dengan pekerjaan itu kami mampu menghidupi anak-anak, saudara dan orang tua-orang tua kami, maka saat ini juga kami akan meninggalkan profesi ini”.

     Sesungguhnya perempuan-perempuan PSK ibarat seorang pengembara yang terpaksa memakan babi lantaran tak ada lagi makanan lainnya. Mereka menjadi PSK ketika Negara laksana belantara yang berselimutkan awan gelap kapitalisme dan neo-liberalisme. “mereka (PSK) juga adalah makhluk Tuhan, maka perlakukan mereka secara manusiawi. Mereka hanyalah korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil”.

Senin, 09 Maret 2020

Revolusi Sosial dan Revolusi Agama


Penulis : Subartono 

Antara revolusi sosial dan revolusi agama tidaklah dapat dipisahkan, sebab seluruh kehidupan masyarakat (sosial) senantiasa dipengaruhi oleh suatu kepercayaan yang dianut itulah dia agama. Agama diturunkan Tuhan kedunia, dengan perantaraan nabi-nabinya ialah buat menuntun, kemerdekaan dijiwa manusia untuk memilih jalan menuju Tuhan.

Agama ialah pertalian jiwa manusia dengan Tuhan, Tuhan yang Maha esa. Tidak ada satu makhluk yang berhak menguasai dijiwa manusia. Sebab itu didalam agama Islam diajarkan "Ashaduallailaha ilallah ( Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah.) Wa ashaduanna Muhammadan 'abduhu warasuluh", (dan aku bersaksi bahwa muhammad itu hambanya dan rasulnya).

Begitu terang dan nyata maksud agama, tetapi sebagian manusia masih tetap memperbudak sesama manusia, dan diambilnya agama itu dijadikan persandaran untuk mengokohkan kekuasaan. Sebelum Luther memerdekakan akal benua Eropa, maka diatas nama agama, Paus di Roma memperkosa kemerdekaan berfikir.

Sebelum Voltaire dan Rosseau, memerdekakan pikiran rakyat perancis, maka diatas roma agama kaum pendeta dan kaum kerajaan menindis rakyat di perancis. Sebelum paham Karl Marx berhasil di Ruslan, maka diatas nama agama kaum pendeta Orthodox Ruslan memeras rakyat.

Bahkan penjajahan laknat Allah atas penjajahan! sejak mulai bangsa Barat mengenal penjajahan diawal abad ke-16, bangsa Portugis ke Timur, bangsa Spanjol ke Amerika dan berturut-turut penjajahan belanda, inggris dan Perancis katanya membawa peradapan Kristen ke Benua timur.

Belanda menjajah Indonesia, katanya adalah melakukan perintah sutji dari pada agama Nasrani, mission sacre. Madame Roland berkata dimuka patung kemerdekaan ketika dia akan dibawa kemuka: Berapa banyaknya korban yang telah dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia, diatas namamu" Maka kita berseru: 0 ALLAH!" Kerap kali namamu yang sunyi diambil persandaran oleh manusia untuk melakukan kezaliman kepada sesama manusia.

#Subartono
#harmonisasi
Makassar, 9 maret 2020.

Minggu, 23 Februari 2020

Inilah Memahami Hakikat Kehidupan Dan Kematian


Penulis/Editor: Subar98
    Setiap Agama dan aliran kepercayaan berusaha untuk menerangkan jiwa setelah kematian. Diantara berbagai kepercayaan yang terdapat di muka bumi ini, ada juga yg menyerupai ilmu Gaib atau magic. Tetapi bagaimanapun juga kepercayaan keberlangsungan jiwa sesudah kematian senantiasa merupakan suatu keyakinan yang amat mendalam sepanjang sejarah umat manusia yang konon telah berjuta-juta tahun lamanya. Kepercayaan akan keberlangsungan jiwa ini sesungguhnya merupakan suatu kepercayaan akan adanya suatu hakekat yg Abadi. Itu sebenarnya tidak lain dari jiwa Alam Semesta. Apabila setiap Umat manusia dapat mendekati jiwa alam semesta ini  melalui suatu perjuangan untuk mengatasi kematian,  maka pasti ia dapat memunculkan Sumber kekuatan jiwa alam Semesta yang kekal abadi. Berbagai perbedaan pendapat mengenai keadaan jiwa sesudah kematian timbul karena perbedaan pengertian mengenai konsep "Sunyata".
     Justru konsep sunyata ini merupakan  suatu kunci untuk memahami hakekat kehidupan dan kematian. Dalam dunia materi tidak mungkin  terdapat suatu perubahan dari "Ada" menjadi "tidak ada" atau sebaliknya dari tidak ada jadi ada. Ini adalah suatu kebenaran yg telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern sebagai salah satu hukum Alam Semesta.
Contoh: Tenaga listrik dapat menyalahkan lampu maupun pesawat TV. Energi Listrik dapat berubah jadi energi kinetik. Tetapi tidak mungkin suatu energi muncul dari suatu keadaan tidak ada,  dan energi yang saat ini ada,tak mungkin tiba-tiba menghilang. Jadi yang ada hanyalah perubahan wujud energi. Inilah hukum kekekalan energi. Jiwa kita pun sebenarnya mempunyai energi kejiwaan. Sebagaimana benda-benda mempunyai energi fisik, didalam setiap mahluk berjiwa terdapat arus energi kejiwaan, yang terdiri dari energi jasmani dan energi Rohani. Pada energi kejiwaan inipun berlaku hukum kekekalan energi. Jadi jiwa yg hidup adalah energi kejiwaan yg aktif, sedangkan jiwa yang mati adalah energi yang pasif. Energi yang pasif dapat juga pada suatu saat kembali jadi  aktif.
    Pengertian ini dapat kita pahami dengan perumpamaan sebagai berikut: Hujan turun kebumi akan diserap oleh tanah ataupun mengalir diatas tanah memasuki Sungai hingga akhir nya mengalir keluar. Air hujan maupun air Sungai sama-sama merupakan suatu zat cair yg dapat kita amati pergerakan nya. Tetapi sekalinya  air tersebut menguap, maka wujudnya sebagai zat cair akan lenyap. Air yang menguap ini kembali menjadi awan dan akhirnya turun kembali sebagai hujan. Air maupun uap air pada Hakekat nya tidak berbeda yang tiap molekulnya tersusun dari dua molekul hidrogen dengan satu molekul oksigen (H2O). Disini dapat kita umpamakan air dalam bentuk zat cair sebagai jiwa yang hidup, Sementara air dalam bentuk uap sebagai jiwa yang mati.  Artinya, Dengan tetap memiliki Hakekat yang sama,  jiwa kita secara terus menerus mengulangi keadaan hidup dan mati dengan membawa karma masa lampau diri  yang tersimpan di indera ke 8 didasar jiwa. 

Sabtu, 09 November 2019

Di Akhirat nanti Kita Semua Saling Menuntut, Tidak Seorangpun Yang Terlepas

                Editor/penulis : Subar98

    Dunia ini boleh kita halalkan semuanya dan takkan saling menuntut di akhirat tapi bila di Padang Mahsyar, bau neraka pun sudah kita  tercium walaupun jaraknya 500 Tahun perjalanan lagi, semua orang dalam ketakutan dan semua orang takkan terlepas dari tuntut menuntut. Orang Lelaki paling banyak dituntut di akhirat. Isterinya, anaknya, sama ayah, mertuanya dan adik-beradik perempuannya (walaupun sudah berkawin). Jika ramai isterinya, maka ramailah isterinya yang akan menuntut segala pahala darinya. Jika ramai anaknya, maka ramailah anaknya yang akan menuntut pahalanya di akhirat. Begitu juga ibu bapaknya, walaupun di dunia ini tidak menjaga ibu/bapak yang sakit, maka ayah kata dia ridho tapi di akhirat nanti semuanya akan dituntut. Jika ada mertua tapi tidak menjaga hak mertua di akhirat, juga akan dituntut kelak. Jika punya adik beradik perempuan, mereka juga akan menuntut pahala darinya, sampai habis dan tak cukuplah pahala orang lelaki, lalu berpindahlah dosa-dosa orang yang menuntut itu pada orang lelaki itu, kata Ustazah Asma' Harun.
     Di akhirat, suami pun akan saling menuntut pada isterinya. Anak-anak pun akan saling menuntut pada sama ayahnya. Adik-beradik perempuan akan saling menuntut dengan kakaknya. Mertua pun akan saling tuntut menuntut pada menantunya, kawan-kawan pun akan saling tuntut menuntut pada kawan-kawannya. Dunia ini semuanya nampak simple dan ramai yang ambil mudah. Contoh suami sedang tidur walaupun sudah masuk waktu solat. Istri harus membangunkan suami bangun dan solat sebab di akhirat nanti, suami akan tuntut kenapa istri tak membangunkan suami yang sedang tidur. Dunia ini kita nampak kecil di benda ini tapi di akhirat nanti sebesar-besar kuman pun suami akan tuntut isteri.
      Dunia ini jika suami membiarkan istri-istri mereka saling umpat mengumpat, berbicara buruk tentang orang lain, tidak menutup aurat, tidak solat, tidak berpuasa dan sebagainya, di akhirat nanti para istri akan saling tuntut menuntut pada suami sebab tidak menegur dan melarang dari melakukan dosa. Itu belum lagi dalam berkawan, jika kita ada ilmu agama, kita tidak sampaikan pada kawan-kawan, kita biarkan kawan-kawan kita dalam kealpaan dunia, kita tak melunaskan tanggungjawab sebagai seorang kawan, di akhirat nanti kawan-kawan akan datang menuntut haknya dari kita. Hidup kita didunia ini semuanya akan dihisab walaupun dalam Facebook. Jangan ingat alam maya, Allah tak hitung amalan kita. Apa saja walau sekecil-kecil kuman amalan kita akan dihisab. Seorang perempuan beragama Islam yang mendedah aurat jika tiada satu pun kawan-kawannya yang menegur dia untuk menutup aurat, di akhirat nanti semua kawan-kawannya akan ditanya Allah kenapa tidak menegur kawan untuk supaya dia menutup aurat dan kawan yang tidak tutup aurat itu akan menuntut semua pahala dari kawan-kawannya yang tidak menegurnya.

Kamis, 31 Oktober 2019

Bercinta Dengan Filsafat Cinta

Editor/Penulis : Subar98
     Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.”(Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta
     Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah
      Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31).

Macam-Macam Cinta
      Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
1), Cinta Ibadah.
     Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
2), Cinta Syirik.
      berfirman: Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah “Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
3), Cinta Maksiat.
     Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman: “Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20).
4), Cinta Tabiat.
      Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah swt berfirman: “Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.”
      Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik. Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci. Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram. Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram. Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan. Dalam perjalanan menuju manifestasi, jiwa melewati empat keadaan, 'Ilm, 'Ishq, Wujud, Shuhud. 'Ilm adalah keadaan awal dari kesadaran, kecerdasan murni. 'Ishq adalah cinta, tahap kecerdasan berikutnya menuju manifestasi, karena itu kecerdasan dan cinta sama unsurnya. Benda-benda seperti batu dan tumbuh-tumbuhan, tak memiliki kecerdasan, sehingga tak memiliki cinta, kecuali suatu persepsi kecil tentang cinta yang ada di dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan. Tetapi di antara hewan dan burung-burung, kecerdasan berkembang, sehingga cinta di dalam diri mereka dapat menunjukkan diri. Wujud adalah dunia obyektif, yang diciptakan untuk dicintai, karena cinta tak dapat diwujudkan bila tak ada sesuatu yang dicintai. Shuhud adalah realisasi pengalaman cinta dalam aspek apapun. Kata cinta, dalam bahasa Inggris (love), dalam bahasa Sanskrit (Lobh), berarti keinginan, hasrat. cinta adalah hasrat untuk menyadari sesuatu yang dicintai. Karena itu, Shuhud, realisasi cinta,merupakan satu-satunya tujuan setiap jiwa. Cinta, dalam berbagai aspeknya, dikenal pula dengan sebutan: kehendak, keinginan, hasrat, kebaikan, suka, dan lain-lain.
     Para Sufi berkata bahwa alasan penciptaan adalah karena Yang Mahasempurna ingin mengetahui diri-Nya, dan melakukannya dengan membangkitkan cinta dari sifatnya dan membuatnya menjadi obyek cinta, yang merupakan keindahan. Dengan makna ini, para darwis saling menghormati satu sama lain .dengan berkata, "Ishq Allah, Ma'bud Allah",  (Allah adalah cinta dan Allah adalah [kekasih] yang dicintai). Seorang penyair Hindustan berkata, "Hasrat untuk melihat kekasih membawaku ke dunia, dan hasrat yang sama untuk melihat kekasih membawaku ke surga." Karena cinta merupakan sumber ciptaan dan pemelihara nyata dari semua keberadaan, bila manusia tahu bagaimana cara memberikannya kepada dunia di sekelilingnya sebagai simpati, sebagai kebaikan, pelayanan, ia memberi kepada semuanya makanan kepada setiap jiwa yang lapar. Jika orang mengetahui rahasia hidup ini ia akan menguasai dunia dengan pasti.
    Cinta selalu dapat dikenal di dalam gagasan, ucapan, dan perbuatan orang yang mencintai, karena setiap ekspresinya terdapat kehangatan yang muncul sebagai keindahan, kelembutan, dan kehalusan. Hati yang terbakar oleh api cinta cenderung untuk melelehkan setiap hati yang dijumpainya. Cinta menghasilkan pesona pada pecinta sehingga sementara ia mencintai seseorang, semua mencintai pecinta itu. Magnetisme cinta dijelaskan oleh seorang penyair Hindustan: "Mengapa tidak semua hati dilelehkan menjadi tetesan-tetesan oleh api yang dipelihara hatiku sepanjang hidupku? Karena sepanjang hidup aku meneteskan air mata derita karena cinta, pecinta berkunjung ke kuburku penuh dengan air mata. "Untuk mengajarkan cinta, Nabi Isa berkata, "Aku akan membuatmu menjadi pemancing manusia." Jalaluddin Rumi berkata: "Setiap orang tertarik kepadaku, untuk menjadi sahabatku, tapi tak seorang pun tahu apa di dalam hatiku yang menariknya."

     Cinta itu alami dalam setiap jiwa. Semua pekerjaan dalam hidup, penting atau tak penting, dalam suatu cara cenderung ke arah cinta; karena itu tak seorang pun di dunia yang dapat disebut sepenuhnya tanpa cinta. Cinta adalah sesuatu yang dibawa setiap jiwa ke dunia, tetapi setelah tiba di dunia, orang berperan dalam semua kualitas tanpa cinta. Andai tidak, kita pasti sudah pahit, cemburu, marah, dan penuh kebencian ketika kita lahir. Bayi tak punya kebencian. Anak kecil yang kita sakiti, dalam beberapa menit akan datang dan memeluk kita. Mencintai, memuja seseorang yang berhubungan dengan kita baik dalam hal kelahiran, ras, kepercayaan atau hubungan duniawi lain, datang dari cinta jiwa. Kadang-kadang jatuh cinta pada pandangan pertama, kadang-kadang kehadiran seseorang menarik kita seperti magnet, kadangkadang kita melihat seseorang dan merasa, "Mungkin aku telah mengenalnya." Kadang-kadang kita berbicara dengan orang lain dan merasakan mudah memahami seolah-olah kedua jiwa saling mengenal. Semua ini berkaitan dengan 'pasangan jiwa.
     Hati yang tercerahkan dan cinta lebih berharga daripada semua permata di dunia. Ada berbagai macam hati sebagaimana adanya berbagai macam unsur di dunia. Pertama, hati dari metal perlu lebih banyak waktu dan lebih banyak api cinta untuk memanaskannya, setelah panas ia akan meleleh dan dapat dibentuk menurut kehendak ketika itu, namun kemudian menjadi dingin kembali. Kedua, hati yang terbuat dari lilin, yang segera meleleh ketika bersentuhan dengan api, dan bila mempunyai sumbu ideal, ia akan mempertahankan api itu hingga lilin habis terbakar. Ketiga, hati dari kertas yang dapat menyala dengan cepat ketika bersentuhan dengan api dan berubah menjadi abu dalam sekejap. Cinta itu seperti api. Nyalanya adalah pengorbanan, apinya adalah kearifan, asapnya adalah keterikatan, dan abunya adalah keterlepasan. Api muncul dari nyala, demikian pula kearifan yang muncul dari pengorbanan. Bila api cinta menghasilkan nyala, ia menerangi jalan, dan semua kegelapan lenyap. Bila daya-hidup bekerja di dalam jiwa, itu adalah cinta; bila bekerja di dalam hati, itu adalah emosi, dan bila bekerja di dalam tubuh, itu adalah nafsu. Karena itu orang yang paling mencinta adalah yang paling emosional, dan yang paling emosional adalah yang paling bernafsu, sesuai dengan dataran yang paling disadarinya. Bila ia bangkit di dalam jiwa, ia mencintai; bila bangkit di dalam hati, ia emosional; bila sadar akan tubuh, ia bernafsu. Ketiganya dapat digambarkan dengan api, nyala api, dan asap. Cinta adalah api di dalam jiwa, ia adalah nyala api bila hati dinyalakan, dan ia adalah asap bila ia menjelma melalui tubuh.
    Cinta pertama adalah bagi diri sendiri. Bila dicerahkan, orang melihat manfaatnya yang sejati dan ia menjadi orang suci. Tanpa cahaya pencerahan, manusia menjadi egois hingga ia menjadi setan. Cinta kedua diperuntukkan bagi lawan jenis kelamin. Bila demi cinta, ia bersifat surgawi; dan bila demi nafsu, ia bersifat duniawi. Bila cukup murni, cinta ini tentu dapat menghilangkan gagasan tentang diri sendiri, tetapi manfaatnya tipis dan bahayanya besar. Cinta ketiga diperuntukkan bagi anak-anak, dan ini merupakan pelayanan pertama bagi makhluk Allah. Memberikan cinta kepada anak-anak, adalah memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang dipercayakan oleh Pencipta, tetapi bila cinta ini meluas hingga mencakup seluruh ciptaan Allah, hal ini mengangkat manusia menjadi orang-orang pilihan Allah. Cinta orang tua kepada anak-anaknya jauh lebih besar daripada cinta akan-anak itu kepada orang tuanya, karena semua pemikiran penggunaan tua terpusat pada anak, tetapi cinta anak mula-mula terpusat pada diri sendiri. Muhammad s.a.w. ditanya seseorang, "Cinta siapa yang lebih besar, cinta anak-anak kepada orang tua mereka, atau cinta orang tua kepada anak-anaknya?" Beliau menjawab, "Cinta orang tua lebih besar, karena sementara melakukan semua hal, mereka berpikir bagaimana agar anaknya tumbuh dan bahagia, seolah-olah ia mengharap untuk hidup di dalam kehidupan anak-anaknya setelah ia mati; sementara anak-anak yang saleh berpikir bahwa suatu hari orang tuanya akan mati, dan dengan demikian mereka hanya sebentar dapat melayani orang tua mereka." Orang itu bertanya, "Cinta ayah atau ibu-kah yang lebih besar?" Nabi menjawab, "Ibu. Ia berhak memperoleh penghormatan dan pelayanan, karena surga terletak di bawah kakinya." Cinta orang tua adalah cinta yang paling diberkahi, karena cinta mereka sebening kristal.
    Tiada daya yang lebih besar daripada cinta. Semua kekuatan muncul ketika cinta bangkit di dalam hati. Orang berkata, "Ia berhati lembut, ia lemah," tetapi banyak orang yang tidak tahu kekuatan apa yang muncul dari hati yang menjadi lembut dalam cinta. Seorang serdadu bertempur di medan perang demi cinta kepada rakyatnya. Setiap pekerjaan yang dilakukan dalam cinta, dilakukan dengan seluruh daya dan kekuatan. Khawatir dan alasan, yang membatasi daya, tak mampu melawan cinta. Seekor induk ayam, meskipun sangat takut, dapat melawan seekor singa untuk melindungi anak-anaknya. Tiada sesuatu yang terlalu kuat bagi hati yang mencintai. Daya cinta menyelesaikan semua urusan dalam hidup sebagaimana daya dinamit yang mengalahkan dunia. Dinamit membakar segala sesuatu, demikian pula cinta: bila terlalu kuat ia menjadi roda pemusnah, dan segalanya menjadi salah dalam hidup pecinta. Itulah misteri yang menjadi penyebab penderitaan hidup seorang pecinta. Namun, pecinta itu mengambil manfaat dalam kedua kasus. Bila ia menguasai keadaan, ia seorang penguasa (master). Bila ia kehilangan semuanya, ia orang suci. Cinta mengatasi [berada di atas] hukum, dan hukum berada di bawah cinta. Keduanya tak dapat dibandingkan. Yang satu dari langit, yang satu dari bumi. Bila cinta mati, hukum mulai hidup. Maka, hukum tak pernah menemukan tempat bagi cinta, demikian pula cinta tak dapat membatasi diri dengan hukum; hukum itu terbatas, dan cinta itu tak berbatas. Seseorang tak dapat memberi alasan mengapa ia mencintai orang tertentu, karena tiada alasan bagi segalanya kecuali cinta. Tatkala seorang filosof sedang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik. Apa yang bisa dia katakan kepada gadis itu. Mungkin dia akan mengatakan "Logikaku tak pernah habis mengurai tubuhmu". Atau Wahai gadis, bisakah kita membuat sintesis psikologis yang menguntungkan?"  Atau Perempuan, bau rambutmu sangat mengganggu pikiranku. AKu ingin melumat tubuhmu hingga tak tersisa, biar nalarku kembali bekerja"  Atau mungkin dia akan berkata "kekasihku, kau telah runtuhkan logikaku, dan menyisakan senyawa cinta. Kurasa, aku telah jatuh cinta".

Inilah Yang Terjadi Terhadap Agama Dunia

Editor/Penulis : Subar98
    Beberapa penelitian pun telah dilakukan guna mencari sebab musabab krisis kepercayaan dari pengikut agama resmi tersebut, serta munculnya berbagai ajaran kebatinan. Dan hasil yang didapat pun beragam. Diantaranya seperti faktor akhak sosial, pemecahan persoalan yang cenderung didekati dengan pendekatan hukum semata (halal atau haram), atau pun reaksi-reaksi internal terhadap formalisme, dogmatisme atau kebekuan hirarkis yang terpolakan dalam agama-agama tersebut. Agama resmi saat ini tengah mengalami krisis kepercayaan dari para penganutnya. Praktek ajaran agama resmi dirasa terlalu menekankan pada ritualitas sehingga kurang memberikan kebermaknaan dalam beragama. Oleh karenanya, sebagian penganut agama resmi melirik pada aliran kepercayaan sebagai pengganti agama resmi mereka atau menganut keduanya, sebagai upaya menemukan makna dalam realitas kehidupan.
      Houston Smith menjelaskan bahwa krisis agama tersebut akan berujung pada masa depan agama itu sendiri. Agama sudah tidak menjadi bagian hidup orang banyak lagi, hanya menjadi bagian dari kehidupan manusia secara personal, itupun kalau dia religius. Lalu dimana fungsi agama saat ini? Ini adalah sebuah pertanyaan aksiologis materialistis mengenai agama. Dengan melihat konteks dunia, khususnya di Eropa pada awal abad ke 20, dimana kelaparan merajalela seperti yang terjadi di Jerman dan Italia yang membuat Fasisme bermunculan. Efek ini kemudian meluas lalu menjadi pemicu utama mainstream materialis dan seterusnya hedonis. Kondisi ini kemudian berlanjut sampai sekarang dimana Eropa dan Amerika sudah memiliki kemapanan ekonomi dan negara-negara berkembang sudah dalam proses transisi. Ada hal menarik pada zaman sekarang khusus dua dasawarsa terakhir. Manusia-manusia dinegara maju sudah mencapai titik jenuh dalam alam materialismenya.
     Kejenuhan ini berawal pada kondisi bahwa banyaknya materi ternyata tidak membawa kepuasan batin. Jalaluddin Rahmat mengatakan kondisi ketidak puasan batin (psikis) seperti ini membawa manusia kembali ke ranah agama. Seperti munculnya aliran psikologi transpersonal dalam dunia Psikologi dimana orang dalam mazhab ini dilatih untuk menajamkan aspek spiritualitasnya dalam mencapai kestabilan psikis dan menekan impuls-impuls negatif dalam dirinya. Berbagaimacam metode digunakan yang umumnya diambil dari agama seperti meditasi yang diambil dari Budha. Contoh lainnya adalah pertumbuhan pemeluk Islam yang semakin meningkat dari tahun ketahun. Harapan mendepan adalah agama akan kembali menjadi titik sentral dalam kehidupan manusia sehingga tidak akan ada lagi penindasan, perampasan, dan semacamnya. Karena konsep universalitas agama, terlepas dari klaim bahwa agamanya yang paling benar dari masing-masing pemeluk agama, adalah kasih sayang sesama manusia. Dengan demikian tatanan masyarakat dunia akan menjadi stabil serta kehidupan yang dijalani bisa dinikmati sacara batiniah. Karena itulah menurut Suciati, diperlukan upaya dakwah yang tepat bagi mereka. Upaya dakwah tersebut bisa dengan dakwah jama’ah dan dakwah kultural, seperti yang sudah dirancang oleh Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu.

Fenomena Inilah Yang Terjadi Dalam Diri Manusia

      Manusia atas Ketidaktahuan akan kebenaran  hukum sebab akibat  hidup ini dengan baik, maka diri berani melakukan hal yang buruk dengan sikap yang tak terpuji pada lingkungan yang akhirnya mengakibatkan diri terjerumus kedalam lumpur penderitaan yang tak putus-putus, karena ketidakpuasan akan kehidupan yang baik, maka diri berani melakukan kebodohan yang mengakibatkan diri terjerumus kedalam kesulitan ekonomi yang penuh duka kebingungan. Setiap kebijakan ada mengandung nilai hukum sebab akibat yang harus dipertanggung jawabkan oleh diri, maka dari itu, diri harus bisa sadari bahwa, jika mau hidup baik dan bahagia, diri harus tetap munculkan energi jiwa yang sadar dan yang positif didalam sekejap perasaan jiwa dengan sejuk dan damai penuh kedewasaan.
    Diri harus tekun belajar mendengar ajaran kehidupan dengan baik dan sungguh-sungguh agar jiwa senantiasa bisa jalankan perbaikan perilaku (moral) dan tindakan jadi lebih baik dan benar serta senantiasa menumpuk sebab baik dan baik. Dengan semakin mendengar dan belajar ditambah banyak mengalami benturan-benturan kesulitan ekonomi dan penderitaan lainnya,maka diri akan semakin yakin dan harus bertekat dan tekun belajar agar mau berubah jadi lebih baik dan pikiran jadi sehat dan makin terbuka. Sehingga akan terbentuk kepribadian yang lebih baik dengan moral yang  ramah dan ucapan yang santun. Lingkungan akan merasakan hawa perubahan dan tindakan yang baik dari diri kita,sehingga kemanapun kita akan terasa nyaman dan tenang. Itu adalah bukti bahwa kita  dan keluarga telah berubah dan jalankan kehidupan dengan baik.

Rabu, 07 Agustus 2019

Benarkah, Muhammadiyah Lambat Melakukan Kaderisasi Pemimpin Politik



Tak bisa dipungkiri Muhammadiyah memilih andil besar atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh Muhammadiyah sejak sebelum lahirnya republik ini telah berperan tanpa pamrih.

Filosofis yang diajarkan Ahmad Dahlan bukan hanya terimplementasi dalam bermuhammadiyah, akan tetapi dalam bernegara.

"Hidup-hidupi Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah," pesan kh ahmad dahlan.

Sayangnya semangat Ki Bagus Hadikusuma yang berhasil meramu keinginan Ahmad Dahlan kini mulai ditinggalkan. Bahkan, menurut Professor Bahtiar Effendy, telah dikhianati. Menurutnya, kini Muhammadiyah mengalami darurat Pemimpin politik.

Muhammadiyah lambat melakukan kaderisasi pemimpin politik. Bahkan dianggap kalah jauh dari saudaranya, NU. Berbeda dengan Muhammadiyah, NU sukses menempatkan kader-kadernya di dalam birokrasi.

Karenanya, menurut Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, Muhammadiyah jangan sampai 'sekuler'. Jangan berkutat pada pendefinisian Muhammadiyah hanya beramal sosial-agama tanpa melirik politik. Menurutnya, politik harus dijadikan sebagai amal usaha.

Pendapat beliau banyak benarnya. Kita saksikan saja panggung politik nasional maupun daerah lebih dikuasai kader-kader NU dan ormas Islam lainnya. Sebagai salah satu ormas Islam terbesar, harusnya Muhammadiyah memiliki peran yang lebih besar daripada sekarang.

Praktis hanya Amien Rais dan sekarang hanya ada Dahnil Anzar, Raja Juli, Ahmad Rofiq, kader Muhammadiyah yang berada di panggung politik nasional. Barangkali ada beberapa orang lagi, namun peran mereka tidak signifikan. Tidak mewarnai perpolitikan nasional.

Realitas itu juga tercermin di tingkat daerah. Kader-kader Muhammadiyah hanya berkutat pada kegiatan sosial dan keagamaan. Bukan berarti kegiatan itu buruk, namun demikian penting bagi kader Muhammadiyah mengambil peran di dalam politik.

PAN yang katanya sebagai tempat penyampaian aspirasi warga Muhammadiyah malah kurang diminati kader Muhammadiyah. Itu artinya PAN bukan partai yang dianggap ideal bagi kader Muhammadiyah.

Diakui atau tidak, dengan mengusung Islam berkemajuan, Muhammadiyah sudah jauh tertinggal dari ormas Islam lainnya. Kader-kader Muhammadiyah kurang 'menggigit' dalam percaturan politik nasional maupun daerah.

Bahkan ketika Luthfi Assyaukanie membeberkan hasil temuannya, sungguh sangat mencengangkan. Mengusung Islam berkemajuan, namun persentase kader Muhammadiyah yang berani mengaku sebagai Muhammadiyah pada publik sangat rendah.

Hal itu berbeda dengan kader-kader NU yang lebih berani mengaku sebagai anggota NU. Ada apa sebenarnya? Apakah kader Muhammadiyah tidak percaya diri jika mengaku pada publik dirinya Muhammadiyah? Jika iya, apa sebabnya?

Bisa jadi mereka enggan mengaku Muhammadiyah karena minimnya tokoh mereka berada dalam pemerintahan. Kembali lagi soal krisis pemimpin politik yang dicetak Muhammadiyah. Kader-kader Muhammadiyah harusnya lebih berani dan sering tampil di atas panggung politik.

Panggung perpolitikan nasional maupun daerah butuh sentuhan kader-kader Muhammadiyah agar lebih berwarna. Bahkan saat ini masyarakat lebih mengenal FPI ketimbang Muhammadiyah dalam politik nasional. Padahal sekolah dan universitas Muhammadiyah ada di mana-mana.

Coba kita perhatikan dalam dinamika politik pilpres dan pileg 2019 yang lalu. Jarang kita dapati kader-kader Muhammadiyah muncul kecuali ketika digoyang dana Kemenpora. Selain itu, praktis Muhammadiyah tidak berperan, termasuk aksi-aksi damai yang dilakukan umat Islam.

Kalaupun Muhammadiyah secara lembaga ingin menghindari politik, namun secara kader harusnya Muhammadiyah lebih proaktif. Tokoh sekaliber Ki Bagus Hadikusuma harusnya kembali hadir dalam perpolitikan nasional.

Keran demokrasi harusnya dimanfaatkan Muhammadiyah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin politik yang hebat. Jangan tidak percaya diri, jangan menutup diri dari kehidupan politik, baik secara nasional maupun daerah.

Muhammadiyah sepertinya stagnan bahkan terasa mengalami kemunduran. Kader-kader Muhammadiyah bersama NU dulunya menjadi bidan lahirnya Masyumi, Amien Rais mendirikan PAN, tahun 2006 kader-kader Muhammadiyah pernah mendirikan PMB (Partai Matahari Bangsa).

Tapi kini, kaderisasi mereka lemah. Bahkan di tingkat mahasiswa, kaderisasi IMM kalah jauh dari HMI, atau Pemuda Muhammadiyah kalah pamor dari GP Anshor. Muhammadiyah harusnya melihat redupnya kader-kader mereka di politik sebagai sebuah problem.

Muhammadiyah harus menemukan formula yang tepat agar kadernya kembali berkiprah. Politik dapat dijadikan ladang dakwah. Jangan takutlah berpolitik maupun masuk dalam partai politik. Menyitat pernyataan Prof.Dr. Bahtiar Effendy di awal tulisan, politik sebagai amal usaha.

Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, adalah Islam yang memberi sentuhan kemajuan dan kemodernan. Menurutnya, Islam modern, selain menumbuhkan nasionalisme, juga menumbuhkan kesadaran politik baru.

Melalui kadernya, Muhammadiyah harusnya menghadirkan wajah baru politik nasional. Politik untuk kemaslahatan bersama, menghadirkan realitas politik yang sesungguhnya. Bukan politik yang berkiblat pada kepentingan kelompok dan diri semata.

Muhammadiyah harus menjadi mesin produksi pemimpin politik. Kaderisasi pemimpin harus rutin dilakukan sehingga krisis pemimpin politik dapat teratasi. Haedar Nashir merasakan krisis pemimpin politik di dalam organisasinya. Karenanya, ia pernah menyerukan kepada kadernya agar aktif di partai politik.

Islam yang berkemajuan harusnya diimplementasikan kader-kader Muhammadiyah dalam segala bidang, termasuk politik. Islam yang berkemajuan mendorong kader Muhammadiyah menjadi tokoh politik yang antikorupsi, anti-penyalahgunaan kekuasaan, dan merangkul kemajemukan.

Konsep sehebat apa pun tanpa implementasi di lapangan hanya menjadi catatan di dalam laptop, gadget, maupun di atas kertas. Muhammadiyah harus mendakwahkan apa itu Islam yang berkemajuan dalam politik. Untuk itu, Muhammadiyah harus mencetak pemimpin politik sebanyak mungkin.

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

  Gambar merupakan ilustrasi   Tulisan: Subartono   Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks be...