Editor/Penulis : Subar98
Beberapa penelitian pun telah dilakukan guna mencari sebab musabab krisis kepercayaan dari pengikut agama resmi tersebut, serta munculnya berbagai ajaran kebatinan. Dan hasil yang didapat pun beragam. Diantaranya seperti faktor akhak sosial, pemecahan persoalan yang cenderung didekati dengan pendekatan hukum semata (halal atau haram), atau pun reaksi-reaksi internal terhadap formalisme, dogmatisme atau kebekuan hirarkis yang terpolakan dalam agama-agama tersebut. Agama resmi saat ini tengah mengalami krisis kepercayaan dari para penganutnya. Praktek ajaran agama resmi dirasa terlalu menekankan pada ritualitas sehingga kurang memberikan kebermaknaan dalam beragama. Oleh karenanya, sebagian penganut agama resmi melirik pada aliran kepercayaan sebagai pengganti agama resmi mereka atau menganut keduanya, sebagai upaya menemukan makna dalam realitas kehidupan.Houston Smith menjelaskan bahwa krisis agama tersebut akan berujung pada masa depan agama itu sendiri. Agama sudah tidak menjadi bagian hidup orang banyak lagi, hanya menjadi bagian dari kehidupan manusia secara personal, itupun kalau dia religius. Lalu dimana fungsi agama saat ini? Ini adalah sebuah pertanyaan aksiologis materialistis mengenai agama. Dengan melihat konteks dunia, khususnya di Eropa pada awal abad ke 20, dimana kelaparan merajalela seperti yang terjadi di Jerman dan Italia yang membuat Fasisme bermunculan. Efek ini kemudian meluas lalu menjadi pemicu utama mainstream materialis dan seterusnya hedonis. Kondisi ini kemudian berlanjut sampai sekarang dimana Eropa dan Amerika sudah memiliki kemapanan ekonomi dan negara-negara berkembang sudah dalam proses transisi. Ada hal menarik pada zaman sekarang khusus dua dasawarsa terakhir. Manusia-manusia dinegara maju sudah mencapai titik jenuh dalam alam materialismenya.
Kejenuhan ini berawal pada kondisi bahwa banyaknya materi ternyata tidak membawa kepuasan batin. Jalaluddin Rahmat mengatakan kondisi ketidak puasan batin (psikis) seperti ini membawa manusia kembali ke ranah agama. Seperti munculnya aliran psikologi transpersonal dalam dunia Psikologi dimana orang dalam mazhab ini dilatih untuk menajamkan aspek spiritualitasnya dalam mencapai kestabilan psikis dan menekan impuls-impuls negatif dalam dirinya. Berbagaimacam metode digunakan yang umumnya diambil dari agama seperti meditasi yang diambil dari Budha. Contoh lainnya adalah pertumbuhan pemeluk Islam yang semakin meningkat dari tahun ketahun. Harapan mendepan adalah agama akan kembali menjadi titik sentral dalam kehidupan manusia sehingga tidak akan ada lagi penindasan, perampasan, dan semacamnya. Karena konsep universalitas agama, terlepas dari klaim bahwa agamanya yang paling benar dari masing-masing pemeluk agama, adalah kasih sayang sesama manusia. Dengan demikian tatanan masyarakat dunia akan menjadi stabil serta kehidupan yang dijalani bisa dinikmati sacara batiniah. Karena itulah menurut Suciati, diperlukan upaya dakwah yang tepat bagi mereka. Upaya dakwah tersebut bisa dengan dakwah jama’ah dan dakwah kultural, seperti yang sudah dirancang oleh Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar