Rabu, 21 September 2022

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

 

Ilustrasi gambar

Gambar merupakan ilustrasi 

Tulisan: Subartono 

Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Bukan lagi hal yang asing untuk di kalangan remaja. Sehingga saat ini banyak anak muda yang telah kehilangan cita-cita, visi dan semangat dalam hidupnya dikarenakan seks bebas yang semakin merajalela dikalangan remaja saat ini.

Bukti yang nyata tentang problem generasi bangsa hari ini dapat kita lihat disalah satunya dari laporan komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI). Data tersebut sering sekali dijumpai sebagai bahan pertimbangan besar kita, meskipun data ini sudah lama.

Laporan KPAI dari Januari sampai Juli 2022 tercatat 12 kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan yang terjadi di 3 sekolah (25 persen) dalam wilayah KemendikbudRistek dan 9 (75 persen) di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama. Rentang usia korban antara 5-17 tahun

Kekerasan seksual terjadi di tingkat SD sebanyak 2 kasus, tingkat SMP 1 kasus, pondok pesantren 5 kasus, madrasah tempat mengaji atau tempat ibadah 3 kasus, serta tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD 1 kasus. Ternyata pada 12 kasus kekerasan seksual tesebut berjumlah 52 anak, di mana 31 persen yang terjadi kalangan anak laki-laki, dan 69 persen pada anak perempuan.

Menurut Rubenstein (dalam Collier,1998) kekerasan seksual didefinisikan sebagai sifat atau perilaku seksual yang tidak diinginkan atau tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung penerima.

Sehingga perlunya ada tindakan yang kita lakukan untuk mencegah sebelum terjadinya tindakan kekerasan seksual agar kurangnya depresi dikarenakan kasus tersebut.

Dalam hal pencegahan kekerasan seksual perlunya pemahaman yang mendalam sehingga perlu ada namanya mata pembelajaran seksual. Bagian informasi penting yang harus perlu diketahui oleh anak melalui pelajaran seputar yang bersifat seksual, maka anak-anak akan mampu bisa lebih memahami pentingnya seksualitas sebagai bagian dari kesehatan tubuh, bukan sekadar hubungan antara pria dan wanita.

Berkembangnya teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini, maka penting bagi anak untuk mendapatkan pendidikan seks yang akurat dan tepat sejak dini. Jangan sampai anak-anak kata sudah terlanjur mendapatkan informasi yang seputar seks dari beberapa sumber yang tidak dapat dipercaya, misalnya teman sebaya atau diinternet.

Anak perlu mengetahui bahwa sebagai orangtua bisa diajak berdiskusi seputar pengetahuan atau pemahaman seksual. Pada saat anak-anak telah diberikan edukasi seks atau pemahaman seksual sejak dini, maka di masa remaja ia pun tidak merasa canggung dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Apalagi anak sekolah telah memasuki ranah perkembangan remaja, kemungkinan besar ia mempunyai pertanyaan yang lebih spesifik mengenai seks. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikan dengan tepat baik di usia dini maupun saat masuk usia pubertas. Edukasi seks pada anak juga tidak hanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan organ seksual semata. Namun juga berhubungan dengan kepemilikan dan kenyamanan tubuh.

Senin, 19 September 2022

In Memoriam Prof DR Azyumardi Azra; Kontribusinya Pada Pembukuan S3 PPS UIN Alauddin Makassar



Penulis : Ahmad M. Sewang

Mohon maaf, tulisan berseri yang saya janjikan tertunda sementara karena diintrupsi tulisan untuk mengenang in memoriam atas wafatnya guru saya Prof. Dr. Azyumardi Azra. Bagi saya moment pertemuan pertama dengan beliau sangat bersejarah. Jika sejarah hanya mencatat hal yang unik, maka pertemuan dengan beliau termasuk unik. 

Beliau baru kembali dari Amerika Serikat menyelesaikan studinya, sementara saya sedang ingin ujian akhir penyelesaian studi S3 di PPs IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam waktu yang sama Direktur PPs Jakarta, Prof. Dr. Harun Nasution, sedang mencari penguji yang sejarawan, maka ditunjuklah Prof. Azyumardi sebagai penguji. Di mana letak keuniknya? Sebab itulah beliau baru pertama kalinya menguji disertasi di PPs Jakarta sejak pulang dari studi.

Ketika Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A. terpilih sebagai Rektor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Azyumardi dinominasikan  sebagai Wakil Rektor I. namun Azyumardi meminta kesempatan selama tiga hari untuk berpikir. Setelah tiga hari Prof. Quraish bertanya kepada Azyumardi tentang kesiapannya. Kelihatanya Prof. Azyumardi justru meminta orang lain, "Biarlah orang lain yang ditujuk," kata Azyumardi. Namun, Prof. Quraish bertanya, "Apakah Azyumardi PNS?" Azyumardi menjawab, "Ya, tentu saja." Prof. Quraish berkata tegas, "Sebagai pimpinan, saya memerintahkan kamu untuk membantu saya sebagai WR I." Demikian cerita Asyumardi di sebuah artikel sekaligus menunjukkan beliau bukan seorang yang ambisius.

Prof. Quraish langsung memberi dua tugas pada Azyumardi, yaitu,

1. Keliling mencari founding untuk merehabilitasi Kampus Syarif Hidayatullah sebagai kampus modern.

2. Mengubah IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan merancang pedoman integrasi keilmuan. Alhamdulillah, berkat rintisan Prof. Azyumardi, sekarang ini sudah berdiri 29 UIN seluruh Indonesia.

Ketika saya kembali ke Makassar, saya diberi amanah sebagai Asdir II IAIN Alauddin Makassar.  Direktur PPs waktu itu Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah sedang merancang pendirian program S3. Sedang Asdir I Prof. Rafii Yunus, M.A., Ph.D., sudah konsentrasi untuk mendapat tugas baru sebagai Pimpinan Pusat Asadiyah di Sengkang, maka saya ditugaskan menyelesaikan proposal S3 oleh Rektor, Prof. Dr. Ashar Azhar, M.A. Di sini saya bertemu kembali Prof. Azyumardi Azra yang diberi tugas Menteri Agama RI, memeriksa  kelengkapan persyaratan pendirian S3. Sekalipun saya harus bolak-balik antara Makassar dan Ciputat bertemu Prof. Azyumardi, alhamdulillah dalam waktu tidak lama, yaitu tahun 2002, Menteri Agama RI, Prof. Dr. Agil al-Munawwar datang di Makassar bersama Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Qadri Azizi untuk meresmikan S3 sekaligus menyumbang software Dicital Library. Saya sungguh bergembira, sebab menurut informasi yang sampai ke saya bahwa alumni S3 sekarang sudah berjumlah 1023 orang per September 2022. Alumni tersebut tersebar di seluruh Indonesia, khusus Indonesia bagian Timur.

Setelah saya melihat kelambatan proses pendirian STAIN Majene, saya sampaikan kepada Prof. Azyumardi, beliau spontan menjawab, "Saya ingin sekali membantu. Sayang saya sudah tidak lagi sebagai deputi dan staf khusus Wakil Presiden." Artinya, beliau ringan hati untuk membantu dalam masalah kemajuan sebuah pendidikan.

Itulah in memoriam saya dengan seorang ilmuwan, guru sejati, istiqamah serta toleransi dalam bersikap. Beliau cukup berjasa dalam pendirian S3 di PPs UIN Alauddin Makassar.

Akhirnya, kepada almarhum saya mengucapkan, "Selamat jalan guru dan sahabatku saya yakin Allah swt. akan menempatkan di tempat terpuji sesuai amal ibadahmu. Saya pun berdoa semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah menerima musibah ini. Kita semua mencintaimu, tetapi nampaknya Yang Maha Pemilik lebih mencintaimu dan keputusan itulah terbaik yang harus diterima.

Jumat, 30 Oktober 2020

Manusia Memikul Nasib Tertentu, Disisi Manusia Selalu Mengalami Kejatuhan

 


Di tengah globalisasi informasi dan ekonomi pasar, kerumunan nomad pemuja tubuh, petarung kapital, Pejuang karir, dan penjilat kekuasaan telah mengubur kecemasan eksistensial mereka, yang menyembul dari kolam keseharian ke dalam timbunan kesibukan. 

       Manusia memang memikul nasib tertentu, disatu sisi manusia selalu mengalami kejatuhan, yakni larut dalam keseharian, dan karena itu terasing dari adanya. Namun disisi lain, manusia adalah makhluk penanya adanya. 

Menurut Heidegger, kecemasan yang menyembul keluar dari keseharian itulah perigi mistik digurun nihilisme pada zaman yang tidak religius. Kecemasan menelanjangi manusia sebagai ada yang terlempar dan menuju kematian, sekaligus memberi tawaran untuk bermukim dalam rumah eksistensi. 

       Mistik keseharian mungkin terdengar ganjil. Tetapi persis inilah yang dilakukan oleh Heidegger dalam Sein Und Zeit (ada dan waktu, 1927); menjernihkan keseharian sehingga dasar-dasarnya menjadi tampak dihadapan kesadaran. Sein Und Zeit merupakan pisau eksistensial untuk membedakan yang otentik dan inotentik yang banal dan yang radikal bertolak dari keseharian kita. 

       Descartes menghimpun segenap refleksi pada problem kesadaran yang di sebutnya subjek atau cogito. Rasio adalah Pusat realitas, Observasi menjadi pegangan kebenaran, manusia adalah subjek sejarah dan seterusnya. 

Pemikiran yang berpusat pada subjek ini dianggap bertanggung jawab atas segala efek negatif yang muncul di zaman modern; bencana lingkungan akibat eksploitasi alam yang tak terkendali, atau manipulasi dan represi manusia atas manusia lain.

Senin, 19 Oktober 2020

Melihat Dengan Perspektif Teologis Bahwa Wanita PSK Itu Adalah Ketentuan Tuhan

     


    Realitas yang paling pahit yang harus diterima seorang PSK adalah implikasi dari cercaan para ulama dan birokrat yaitu teralienasi dari masyarakat disekitarnya. Dia akan dikucilkan dari kehidupan yang memang sudah timpang ini. Namun ironisnya ketika kita mempertanyakan kepada para ulama dan sekutunya (birokrat) terkait hal mengapa jutaan perempuan-perempuan PSK harus hidup dengan hasil menjajahkan tubuhnya, kita akan mendengar ocehan para ulama bahwa itu sudah takdirnya, sudah keputusan Tuhan yang tak bisa diganggu gugat lagi bahwa mereka akan menjadi PSK. Lain lagi ocehan para birokrat dan pengusaha yang (perutnya semakin membesar dan sambil tertawa) berceloteh bahwa itu karena mereka sendiri yang malas dan tidak mempunyai skill, karena mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan dan malas berusaha, pokoknya itu adalah kesalahan mereka sendiri.

      Mungkin kita harus terus bertanya kepada sekelompok orang yang merasa sebagai wakil tuhan itu, bahwa sekiranya perempuan yang berprofesi sebagai PSK itu merupakan takdir Tuhan yang harus diterima, lantas mengapa para ulama itu harus menyibukkan dirinya melakukan demonstrasi untuk menutup tempat-tempat hiburan malam (THM), Mengapa pula para ulama itu harus memberikan stempel sesat dan kafir dijidat perempuan-perempuan yang melakoni profesi PSK? bukankah semua itu adalah bentuk penolakan terhadap ketentuan Tuhan? kepada para birokrat kita akan bertanya benarkah bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang malas berusaha dan tidak berpendidikan? bukan kah realitasnya bahwa mereka juga ingin bersekolah namun dengan terpaksa mengurungkan niatnya lantaran biaya pendidikan dan biaya hidup yang semakin membumbung tinggi?, tidakkah engkau lihat bahwa lapangan kerja semakin sempit lantaran banyaknya corporasi-corporasi raksasa milik asing yang memarjinalkan masyarakat pribumi?, Tidakkah engkau melihat langkah kaki gontai jutaan karyawan/wati yang pulang kerumah lantaran di PHK?, Bukankah kalian juga sering meinggalkan tugas kalian sebagai representasi rakyat dan justru berada di tempat-tempat THM?. Bukankah sebagian besar investasi Negara bersumber dari hasil pajak THM? Lantas mengapa engkau masih berkelit bahwa itu karena kemalasan mereka? Rasanya saya ingin meneriakkan kembali kegundahan Mas Eko Prasetyo yang berkata”orang miskin dilarang sekolah”.

    Pembaca yang budiman melalui tulisan yang ringkas ini kita akan mencoba menganalisis secara kritis fenomena para perempuan yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Benarkah klaim para ulama yang melihat dengan perspektif teologis bahwa itu adalah ketentuan Tuhan, atau hanya merupakan dalih para ulama untuk melepaskan diri dari tanggung jawab Tauhid sosialnya? Benarkah klaim para birokrat bahwa itu adalah karena kesalahan mereka atau hanya dalih para birokrat untuk berkelit dari ketidakberpihakannya terhadap kaum miskin? Atau mungkin ada factor lain yang sangat signifikan sehingga menggiring para wanita kedunia PSK. 

    Sekiranya benar klaim para ulama yg berkesadaran magic bahwa fenomena PSK merupakan takdir Tuhan, maka saya adalah orang yang pertama berdemonstrasi di hadapan Tuhan kelak jika para PSK ini dijebloskan keneraka. Seharusnya konsep surga-neraka beserta konsep pahala dan dosa ditiadakan karena Tuhan lah yang menyebabkan manusia berbuat dosa. Apakah ada seorang wanita yang ketika dia kecil bercita-cita sebagai PSK,dan seumur hidupnya berdoa agar dirinya menjadi seorang PSK.Tampaknya kita harus dengan tegas menjawabnya “tidak ada”, lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK?. Sesungguhnya fenomena PSK adalah salah satu dampak dari diterapkannya system kapitalisme dan neo-liberalisme di negeri ini. 

     Kaum miskin tidak akan mampu berkompetisi dengan kaum kaya lantaran kemenangan ditentukan dari banyaknya uang. Neo-liberalisme meniscayakan terjadinya swastanisasi dan komersialisasi semua kebutuhan primer rakyat yang merupakan asset Negara. Seperti pendidikan dan kesehatan yang semula merupakan milik Negara yang dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat kini menjadi komoditi yang dikuasai oleh kaum pemodal, sehingga sekali lagi Eko Prasetyo berceloteh”orang miskin dilarang sekolah dan dilarang sakit” lantaran rumah sakit dan sekolah kini menjadi milik orang-orang kaya. BBM yang semakin langkah dan makanan pokok yang semakin mahal seiring dengan makin mahal dan langkahnya kejujuran adalah salah satu dampak diterapkannya system kapitalisme dan Neo-liberalisme. Lain lagi dengan income/pendapatan yang diterima oleh Negara dengan dibukanya tempat komoditi manusia ( THM ), sehingga sebenarnya pemerintah lah yang paling bertanggung jawab atas makin maraknya fenomena PSK.

     Mereka yang menggiring perempuan-perempuan berprofesi sebagai PSK,dengan menciptakan kebijakan-kebijakan sulap atau kebijakan yang tidak berpihak terhadap kaum miskin seperti kapitalisme dan neo-liberalisme sesungguhnya pemerintah sedang mengarahkan para perempuan untuk beralih profesi dari “Ibu rumah tangga menjadi pelayan rumah bordil". Zainal Abidin advokat asal Palopo (Sul-Sel) pernah mengadvokasi beberapa PSK di lokalisasi Dolly Surabaya. Setelah selesai ceramah PSK itu ditanya perihal apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK. Dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan air mata, para PSK itu menjawab” sekiranya ada pekerjaan lain yang mana dengan pekerjaan itu kami mampu menghidupi anak-anak, saudara dan orang tua-orang tua kami, maka saat ini juga kami akan meninggalkan profesi ini”.

     Sesungguhnya perempuan-perempuan PSK ibarat seorang pengembara yang terpaksa memakan babi lantaran tak ada lagi makanan lainnya. Mereka menjadi PSK ketika Negara laksana belantara yang berselimutkan awan gelap kapitalisme dan neo-liberalisme. “mereka (PSK) juga adalah makhluk Tuhan, maka perlakukan mereka secara manusiawi. Mereka hanyalah korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil”.

Senin, 09 Maret 2020

Revolusi Sosial dan Revolusi Agama


Penulis : Subartono 

Antara revolusi sosial dan revolusi agama tidaklah dapat dipisahkan, sebab seluruh kehidupan masyarakat (sosial) senantiasa dipengaruhi oleh suatu kepercayaan yang dianut itulah dia agama. Agama diturunkan Tuhan kedunia, dengan perantaraan nabi-nabinya ialah buat menuntun, kemerdekaan dijiwa manusia untuk memilih jalan menuju Tuhan.

Agama ialah pertalian jiwa manusia dengan Tuhan, Tuhan yang Maha esa. Tidak ada satu makhluk yang berhak menguasai dijiwa manusia. Sebab itu didalam agama Islam diajarkan "Ashaduallailaha ilallah ( Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah.) Wa ashaduanna Muhammadan 'abduhu warasuluh", (dan aku bersaksi bahwa muhammad itu hambanya dan rasulnya).

Begitu terang dan nyata maksud agama, tetapi sebagian manusia masih tetap memperbudak sesama manusia, dan diambilnya agama itu dijadikan persandaran untuk mengokohkan kekuasaan. Sebelum Luther memerdekakan akal benua Eropa, maka diatas nama agama, Paus di Roma memperkosa kemerdekaan berfikir.

Sebelum Voltaire dan Rosseau, memerdekakan pikiran rakyat perancis, maka diatas roma agama kaum pendeta dan kaum kerajaan menindis rakyat di perancis. Sebelum paham Karl Marx berhasil di Ruslan, maka diatas nama agama kaum pendeta Orthodox Ruslan memeras rakyat.

Bahkan penjajahan laknat Allah atas penjajahan! sejak mulai bangsa Barat mengenal penjajahan diawal abad ke-16, bangsa Portugis ke Timur, bangsa Spanjol ke Amerika dan berturut-turut penjajahan belanda, inggris dan Perancis katanya membawa peradapan Kristen ke Benua timur.

Belanda menjajah Indonesia, katanya adalah melakukan perintah sutji dari pada agama Nasrani, mission sacre. Madame Roland berkata dimuka patung kemerdekaan ketika dia akan dibawa kemuka: Berapa banyaknya korban yang telah dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia, diatas namamu" Maka kita berseru: 0 ALLAH!" Kerap kali namamu yang sunyi diambil persandaran oleh manusia untuk melakukan kezaliman kepada sesama manusia.

#Subartono
#harmonisasi
Makassar, 9 maret 2020.

Minggu, 23 Februari 2020

Inilah Memahami Hakikat Kehidupan Dan Kematian


Penulis/Editor: Subar98
    Setiap Agama dan aliran kepercayaan berusaha untuk menerangkan jiwa setelah kematian. Diantara berbagai kepercayaan yang terdapat di muka bumi ini, ada juga yg menyerupai ilmu Gaib atau magic. Tetapi bagaimanapun juga kepercayaan keberlangsungan jiwa sesudah kematian senantiasa merupakan suatu keyakinan yang amat mendalam sepanjang sejarah umat manusia yang konon telah berjuta-juta tahun lamanya. Kepercayaan akan keberlangsungan jiwa ini sesungguhnya merupakan suatu kepercayaan akan adanya suatu hakekat yg Abadi. Itu sebenarnya tidak lain dari jiwa Alam Semesta. Apabila setiap Umat manusia dapat mendekati jiwa alam semesta ini  melalui suatu perjuangan untuk mengatasi kematian,  maka pasti ia dapat memunculkan Sumber kekuatan jiwa alam Semesta yang kekal abadi. Berbagai perbedaan pendapat mengenai keadaan jiwa sesudah kematian timbul karena perbedaan pengertian mengenai konsep "Sunyata".
     Justru konsep sunyata ini merupakan  suatu kunci untuk memahami hakekat kehidupan dan kematian. Dalam dunia materi tidak mungkin  terdapat suatu perubahan dari "Ada" menjadi "tidak ada" atau sebaliknya dari tidak ada jadi ada. Ini adalah suatu kebenaran yg telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern sebagai salah satu hukum Alam Semesta.
Contoh: Tenaga listrik dapat menyalahkan lampu maupun pesawat TV. Energi Listrik dapat berubah jadi energi kinetik. Tetapi tidak mungkin suatu energi muncul dari suatu keadaan tidak ada,  dan energi yang saat ini ada,tak mungkin tiba-tiba menghilang. Jadi yang ada hanyalah perubahan wujud energi. Inilah hukum kekekalan energi. Jiwa kita pun sebenarnya mempunyai energi kejiwaan. Sebagaimana benda-benda mempunyai energi fisik, didalam setiap mahluk berjiwa terdapat arus energi kejiwaan, yang terdiri dari energi jasmani dan energi Rohani. Pada energi kejiwaan inipun berlaku hukum kekekalan energi. Jadi jiwa yg hidup adalah energi kejiwaan yg aktif, sedangkan jiwa yang mati adalah energi yang pasif. Energi yang pasif dapat juga pada suatu saat kembali jadi  aktif.
    Pengertian ini dapat kita pahami dengan perumpamaan sebagai berikut: Hujan turun kebumi akan diserap oleh tanah ataupun mengalir diatas tanah memasuki Sungai hingga akhir nya mengalir keluar. Air hujan maupun air Sungai sama-sama merupakan suatu zat cair yg dapat kita amati pergerakan nya. Tetapi sekalinya  air tersebut menguap, maka wujudnya sebagai zat cair akan lenyap. Air yang menguap ini kembali menjadi awan dan akhirnya turun kembali sebagai hujan. Air maupun uap air pada Hakekat nya tidak berbeda yang tiap molekulnya tersusun dari dua molekul hidrogen dengan satu molekul oksigen (H2O). Disini dapat kita umpamakan air dalam bentuk zat cair sebagai jiwa yang hidup, Sementara air dalam bentuk uap sebagai jiwa yang mati.  Artinya, Dengan tetap memiliki Hakekat yang sama,  jiwa kita secara terus menerus mengulangi keadaan hidup dan mati dengan membawa karma masa lampau diri  yang tersimpan di indera ke 8 didasar jiwa. 

Sabtu, 09 November 2019

Di Akhirat nanti Kita Semua Saling Menuntut, Tidak Seorangpun Yang Terlepas

                Editor/penulis : Subar98

    Dunia ini boleh kita halalkan semuanya dan takkan saling menuntut di akhirat tapi bila di Padang Mahsyar, bau neraka pun sudah kita  tercium walaupun jaraknya 500 Tahun perjalanan lagi, semua orang dalam ketakutan dan semua orang takkan terlepas dari tuntut menuntut. Orang Lelaki paling banyak dituntut di akhirat. Isterinya, anaknya, sama ayah, mertuanya dan adik-beradik perempuannya (walaupun sudah berkawin). Jika ramai isterinya, maka ramailah isterinya yang akan menuntut segala pahala darinya. Jika ramai anaknya, maka ramailah anaknya yang akan menuntut pahalanya di akhirat. Begitu juga ibu bapaknya, walaupun di dunia ini tidak menjaga ibu/bapak yang sakit, maka ayah kata dia ridho tapi di akhirat nanti semuanya akan dituntut. Jika ada mertua tapi tidak menjaga hak mertua di akhirat, juga akan dituntut kelak. Jika punya adik beradik perempuan, mereka juga akan menuntut pahala darinya, sampai habis dan tak cukuplah pahala orang lelaki, lalu berpindahlah dosa-dosa orang yang menuntut itu pada orang lelaki itu, kata Ustazah Asma' Harun.
     Di akhirat, suami pun akan saling menuntut pada isterinya. Anak-anak pun akan saling menuntut pada sama ayahnya. Adik-beradik perempuan akan saling menuntut dengan kakaknya. Mertua pun akan saling tuntut menuntut pada menantunya, kawan-kawan pun akan saling tuntut menuntut pada kawan-kawannya. Dunia ini semuanya nampak simple dan ramai yang ambil mudah. Contoh suami sedang tidur walaupun sudah masuk waktu solat. Istri harus membangunkan suami bangun dan solat sebab di akhirat nanti, suami akan tuntut kenapa istri tak membangunkan suami yang sedang tidur. Dunia ini kita nampak kecil di benda ini tapi di akhirat nanti sebesar-besar kuman pun suami akan tuntut isteri.
      Dunia ini jika suami membiarkan istri-istri mereka saling umpat mengumpat, berbicara buruk tentang orang lain, tidak menutup aurat, tidak solat, tidak berpuasa dan sebagainya, di akhirat nanti para istri akan saling tuntut menuntut pada suami sebab tidak menegur dan melarang dari melakukan dosa. Itu belum lagi dalam berkawan, jika kita ada ilmu agama, kita tidak sampaikan pada kawan-kawan, kita biarkan kawan-kawan kita dalam kealpaan dunia, kita tak melunaskan tanggungjawab sebagai seorang kawan, di akhirat nanti kawan-kawan akan datang menuntut haknya dari kita. Hidup kita didunia ini semuanya akan dihisab walaupun dalam Facebook. Jangan ingat alam maya, Allah tak hitung amalan kita. Apa saja walau sekecil-kecil kuman amalan kita akan dihisab. Seorang perempuan beragama Islam yang mendedah aurat jika tiada satu pun kawan-kawannya yang menegur dia untuk menutup aurat, di akhirat nanti semua kawan-kawannya akan ditanya Allah kenapa tidak menegur kawan untuk supaya dia menutup aurat dan kawan yang tidak tutup aurat itu akan menuntut semua pahala dari kawan-kawannya yang tidak menegurnya.

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

  Gambar merupakan ilustrasi   Tulisan: Subartono   Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks be...