Tampilkan postingan dengan label seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seks. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2022

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

 

Ilustrasi gambar

Gambar merupakan ilustrasi 

Tulisan: Subartono 

Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Bukan lagi hal yang asing untuk di kalangan remaja. Sehingga saat ini banyak anak muda yang telah kehilangan cita-cita, visi dan semangat dalam hidupnya dikarenakan seks bebas yang semakin merajalela dikalangan remaja saat ini.

Bukti yang nyata tentang problem generasi bangsa hari ini dapat kita lihat disalah satunya dari laporan komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI). Data tersebut sering sekali dijumpai sebagai bahan pertimbangan besar kita, meskipun data ini sudah lama.

Laporan KPAI dari Januari sampai Juli 2022 tercatat 12 kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan yang terjadi di 3 sekolah (25 persen) dalam wilayah KemendikbudRistek dan 9 (75 persen) di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama. Rentang usia korban antara 5-17 tahun

Kekerasan seksual terjadi di tingkat SD sebanyak 2 kasus, tingkat SMP 1 kasus, pondok pesantren 5 kasus, madrasah tempat mengaji atau tempat ibadah 3 kasus, serta tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD 1 kasus. Ternyata pada 12 kasus kekerasan seksual tesebut berjumlah 52 anak, di mana 31 persen yang terjadi kalangan anak laki-laki, dan 69 persen pada anak perempuan.

Menurut Rubenstein (dalam Collier,1998) kekerasan seksual didefinisikan sebagai sifat atau perilaku seksual yang tidak diinginkan atau tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung penerima.

Sehingga perlunya ada tindakan yang kita lakukan untuk mencegah sebelum terjadinya tindakan kekerasan seksual agar kurangnya depresi dikarenakan kasus tersebut.

Dalam hal pencegahan kekerasan seksual perlunya pemahaman yang mendalam sehingga perlu ada namanya mata pembelajaran seksual. Bagian informasi penting yang harus perlu diketahui oleh anak melalui pelajaran seputar yang bersifat seksual, maka anak-anak akan mampu bisa lebih memahami pentingnya seksualitas sebagai bagian dari kesehatan tubuh, bukan sekadar hubungan antara pria dan wanita.

Berkembangnya teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini, maka penting bagi anak untuk mendapatkan pendidikan seks yang akurat dan tepat sejak dini. Jangan sampai anak-anak kata sudah terlanjur mendapatkan informasi yang seputar seks dari beberapa sumber yang tidak dapat dipercaya, misalnya teman sebaya atau diinternet.

Anak perlu mengetahui bahwa sebagai orangtua bisa diajak berdiskusi seputar pengetahuan atau pemahaman seksual. Pada saat anak-anak telah diberikan edukasi seks atau pemahaman seksual sejak dini, maka di masa remaja ia pun tidak merasa canggung dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Apalagi anak sekolah telah memasuki ranah perkembangan remaja, kemungkinan besar ia mempunyai pertanyaan yang lebih spesifik mengenai seks. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikan dengan tepat baik di usia dini maupun saat masuk usia pubertas. Edukasi seks pada anak juga tidak hanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan organ seksual semata. Namun juga berhubungan dengan kepemilikan dan kenyamanan tubuh.

Senin, 19 Oktober 2020

Melihat Dengan Perspektif Teologis Bahwa Wanita PSK Itu Adalah Ketentuan Tuhan

     


    Realitas yang paling pahit yang harus diterima seorang PSK adalah implikasi dari cercaan para ulama dan birokrat yaitu teralienasi dari masyarakat disekitarnya. Dia akan dikucilkan dari kehidupan yang memang sudah timpang ini. Namun ironisnya ketika kita mempertanyakan kepada para ulama dan sekutunya (birokrat) terkait hal mengapa jutaan perempuan-perempuan PSK harus hidup dengan hasil menjajahkan tubuhnya, kita akan mendengar ocehan para ulama bahwa itu sudah takdirnya, sudah keputusan Tuhan yang tak bisa diganggu gugat lagi bahwa mereka akan menjadi PSK. Lain lagi ocehan para birokrat dan pengusaha yang (perutnya semakin membesar dan sambil tertawa) berceloteh bahwa itu karena mereka sendiri yang malas dan tidak mempunyai skill, karena mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan dan malas berusaha, pokoknya itu adalah kesalahan mereka sendiri.

      Mungkin kita harus terus bertanya kepada sekelompok orang yang merasa sebagai wakil tuhan itu, bahwa sekiranya perempuan yang berprofesi sebagai PSK itu merupakan takdir Tuhan yang harus diterima, lantas mengapa para ulama itu harus menyibukkan dirinya melakukan demonstrasi untuk menutup tempat-tempat hiburan malam (THM), Mengapa pula para ulama itu harus memberikan stempel sesat dan kafir dijidat perempuan-perempuan yang melakoni profesi PSK? bukankah semua itu adalah bentuk penolakan terhadap ketentuan Tuhan? kepada para birokrat kita akan bertanya benarkah bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang malas berusaha dan tidak berpendidikan? bukan kah realitasnya bahwa mereka juga ingin bersekolah namun dengan terpaksa mengurungkan niatnya lantaran biaya pendidikan dan biaya hidup yang semakin membumbung tinggi?, tidakkah engkau lihat bahwa lapangan kerja semakin sempit lantaran banyaknya corporasi-corporasi raksasa milik asing yang memarjinalkan masyarakat pribumi?, Tidakkah engkau melihat langkah kaki gontai jutaan karyawan/wati yang pulang kerumah lantaran di PHK?, Bukankah kalian juga sering meinggalkan tugas kalian sebagai representasi rakyat dan justru berada di tempat-tempat THM?. Bukankah sebagian besar investasi Negara bersumber dari hasil pajak THM? Lantas mengapa engkau masih berkelit bahwa itu karena kemalasan mereka? Rasanya saya ingin meneriakkan kembali kegundahan Mas Eko Prasetyo yang berkata”orang miskin dilarang sekolah”.

    Pembaca yang budiman melalui tulisan yang ringkas ini kita akan mencoba menganalisis secara kritis fenomena para perempuan yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Benarkah klaim para ulama yang melihat dengan perspektif teologis bahwa itu adalah ketentuan Tuhan, atau hanya merupakan dalih para ulama untuk melepaskan diri dari tanggung jawab Tauhid sosialnya? Benarkah klaim para birokrat bahwa itu adalah karena kesalahan mereka atau hanya dalih para birokrat untuk berkelit dari ketidakberpihakannya terhadap kaum miskin? Atau mungkin ada factor lain yang sangat signifikan sehingga menggiring para wanita kedunia PSK. 

    Sekiranya benar klaim para ulama yg berkesadaran magic bahwa fenomena PSK merupakan takdir Tuhan, maka saya adalah orang yang pertama berdemonstrasi di hadapan Tuhan kelak jika para PSK ini dijebloskan keneraka. Seharusnya konsep surga-neraka beserta konsep pahala dan dosa ditiadakan karena Tuhan lah yang menyebabkan manusia berbuat dosa. Apakah ada seorang wanita yang ketika dia kecil bercita-cita sebagai PSK,dan seumur hidupnya berdoa agar dirinya menjadi seorang PSK.Tampaknya kita harus dengan tegas menjawabnya “tidak ada”, lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK?. Sesungguhnya fenomena PSK adalah salah satu dampak dari diterapkannya system kapitalisme dan neo-liberalisme di negeri ini. 

     Kaum miskin tidak akan mampu berkompetisi dengan kaum kaya lantaran kemenangan ditentukan dari banyaknya uang. Neo-liberalisme meniscayakan terjadinya swastanisasi dan komersialisasi semua kebutuhan primer rakyat yang merupakan asset Negara. Seperti pendidikan dan kesehatan yang semula merupakan milik Negara yang dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat kini menjadi komoditi yang dikuasai oleh kaum pemodal, sehingga sekali lagi Eko Prasetyo berceloteh”orang miskin dilarang sekolah dan dilarang sakit” lantaran rumah sakit dan sekolah kini menjadi milik orang-orang kaya. BBM yang semakin langkah dan makanan pokok yang semakin mahal seiring dengan makin mahal dan langkahnya kejujuran adalah salah satu dampak diterapkannya system kapitalisme dan Neo-liberalisme. Lain lagi dengan income/pendapatan yang diterima oleh Negara dengan dibukanya tempat komoditi manusia ( THM ), sehingga sebenarnya pemerintah lah yang paling bertanggung jawab atas makin maraknya fenomena PSK.

     Mereka yang menggiring perempuan-perempuan berprofesi sebagai PSK,dengan menciptakan kebijakan-kebijakan sulap atau kebijakan yang tidak berpihak terhadap kaum miskin seperti kapitalisme dan neo-liberalisme sesungguhnya pemerintah sedang mengarahkan para perempuan untuk beralih profesi dari “Ibu rumah tangga menjadi pelayan rumah bordil". Zainal Abidin advokat asal Palopo (Sul-Sel) pernah mengadvokasi beberapa PSK di lokalisasi Dolly Surabaya. Setelah selesai ceramah PSK itu ditanya perihal apa yang menyebabkan mereka menjadi PSK. Dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan air mata, para PSK itu menjawab” sekiranya ada pekerjaan lain yang mana dengan pekerjaan itu kami mampu menghidupi anak-anak, saudara dan orang tua-orang tua kami, maka saat ini juga kami akan meninggalkan profesi ini”.

     Sesungguhnya perempuan-perempuan PSK ibarat seorang pengembara yang terpaksa memakan babi lantaran tak ada lagi makanan lainnya. Mereka menjadi PSK ketika Negara laksana belantara yang berselimutkan awan gelap kapitalisme dan neo-liberalisme. “mereka (PSK) juga adalah makhluk Tuhan, maka perlakukan mereka secara manusiawi. Mereka hanyalah korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil”.

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

  Gambar merupakan ilustrasi   Tulisan: Subartono   Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks be...