Penulis/Editor: Subar98
Setiap Agama dan aliran kepercayaan berusaha untuk menerangkan jiwa setelah kematian. Diantara berbagai kepercayaan yang terdapat di muka bumi ini, ada juga yg menyerupai ilmu Gaib atau magic. Tetapi bagaimanapun juga kepercayaan keberlangsungan jiwa sesudah kematian senantiasa merupakan suatu keyakinan yang amat mendalam sepanjang sejarah umat manusia yang konon telah berjuta-juta tahun lamanya. Kepercayaan akan keberlangsungan jiwa ini sesungguhnya merupakan suatu kepercayaan akan adanya suatu hakekat yg Abadi. Itu sebenarnya tidak lain dari jiwa Alam Semesta. Apabila setiap Umat manusia dapat mendekati jiwa alam semesta ini melalui suatu perjuangan untuk mengatasi kematian, maka pasti ia dapat memunculkan Sumber kekuatan jiwa alam Semesta yang kekal abadi. Berbagai perbedaan pendapat mengenai keadaan jiwa sesudah kematian timbul karena perbedaan pengertian mengenai konsep "Sunyata".Justru konsep sunyata ini merupakan suatu kunci untuk memahami hakekat kehidupan dan kematian. Dalam dunia materi tidak mungkin terdapat suatu perubahan dari "Ada" menjadi "tidak ada" atau sebaliknya dari tidak ada jadi ada. Ini adalah suatu kebenaran yg telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern sebagai salah satu hukum Alam Semesta.
Contoh: Tenaga listrik dapat menyalahkan lampu maupun pesawat TV. Energi Listrik dapat berubah jadi energi kinetik. Tetapi tidak mungkin suatu energi muncul dari suatu keadaan tidak ada, dan energi yang saat ini ada,tak mungkin tiba-tiba menghilang. Jadi yang ada hanyalah perubahan wujud energi. Inilah hukum kekekalan energi. Jiwa kita pun sebenarnya mempunyai energi kejiwaan. Sebagaimana benda-benda mempunyai energi fisik, didalam setiap mahluk berjiwa terdapat arus energi kejiwaan, yang terdiri dari energi jasmani dan energi Rohani. Pada energi kejiwaan inipun berlaku hukum kekekalan energi. Jadi jiwa yg hidup adalah energi kejiwaan yg aktif, sedangkan jiwa yang mati adalah energi yang pasif. Energi yang pasif dapat juga pada suatu saat kembali jadi aktif.
Pengertian ini dapat kita pahami dengan perumpamaan sebagai berikut: Hujan turun kebumi akan diserap oleh tanah ataupun mengalir diatas tanah memasuki Sungai hingga akhir nya mengalir keluar. Air hujan maupun air Sungai sama-sama merupakan suatu zat cair yg dapat kita amati pergerakan nya. Tetapi sekalinya air tersebut menguap, maka wujudnya sebagai zat cair akan lenyap. Air yang menguap ini kembali menjadi awan dan akhirnya turun kembali sebagai hujan. Air maupun uap air pada Hakekat nya tidak berbeda yang tiap molekulnya tersusun dari dua molekul hidrogen dengan satu molekul oksigen (H2O). Disini dapat kita umpamakan air dalam bentuk zat cair sebagai jiwa yang hidup, Sementara air dalam bentuk uap sebagai jiwa yang mati. Artinya, Dengan tetap memiliki Hakekat yang sama, jiwa kita secara terus menerus mengulangi keadaan hidup dan mati dengan membawa karma masa lampau diri yang tersimpan di indera ke 8 didasar jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar