Kamis, 31 Oktober 2019

Bercinta Dengan Filsafat Cinta

Editor/Penulis : Subar98
     Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.”(Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta
     Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah
      Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31).

Macam-Macam Cinta
      Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
1), Cinta Ibadah.
     Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
2), Cinta Syirik.
      berfirman: Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah “Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
3), Cinta Maksiat.
     Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman: “Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20).
4), Cinta Tabiat.
      Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah swt berfirman: “Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.”
      Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik. Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci. Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram. Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram. Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan. Dalam perjalanan menuju manifestasi, jiwa melewati empat keadaan, 'Ilm, 'Ishq, Wujud, Shuhud. 'Ilm adalah keadaan awal dari kesadaran, kecerdasan murni. 'Ishq adalah cinta, tahap kecerdasan berikutnya menuju manifestasi, karena itu kecerdasan dan cinta sama unsurnya. Benda-benda seperti batu dan tumbuh-tumbuhan, tak memiliki kecerdasan, sehingga tak memiliki cinta, kecuali suatu persepsi kecil tentang cinta yang ada di dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan. Tetapi di antara hewan dan burung-burung, kecerdasan berkembang, sehingga cinta di dalam diri mereka dapat menunjukkan diri. Wujud adalah dunia obyektif, yang diciptakan untuk dicintai, karena cinta tak dapat diwujudkan bila tak ada sesuatu yang dicintai. Shuhud adalah realisasi pengalaman cinta dalam aspek apapun. Kata cinta, dalam bahasa Inggris (love), dalam bahasa Sanskrit (Lobh), berarti keinginan, hasrat. cinta adalah hasrat untuk menyadari sesuatu yang dicintai. Karena itu, Shuhud, realisasi cinta,merupakan satu-satunya tujuan setiap jiwa. Cinta, dalam berbagai aspeknya, dikenal pula dengan sebutan: kehendak, keinginan, hasrat, kebaikan, suka, dan lain-lain.
     Para Sufi berkata bahwa alasan penciptaan adalah karena Yang Mahasempurna ingin mengetahui diri-Nya, dan melakukannya dengan membangkitkan cinta dari sifatnya dan membuatnya menjadi obyek cinta, yang merupakan keindahan. Dengan makna ini, para darwis saling menghormati satu sama lain .dengan berkata, "Ishq Allah, Ma'bud Allah",  (Allah adalah cinta dan Allah adalah [kekasih] yang dicintai). Seorang penyair Hindustan berkata, "Hasrat untuk melihat kekasih membawaku ke dunia, dan hasrat yang sama untuk melihat kekasih membawaku ke surga." Karena cinta merupakan sumber ciptaan dan pemelihara nyata dari semua keberadaan, bila manusia tahu bagaimana cara memberikannya kepada dunia di sekelilingnya sebagai simpati, sebagai kebaikan, pelayanan, ia memberi kepada semuanya makanan kepada setiap jiwa yang lapar. Jika orang mengetahui rahasia hidup ini ia akan menguasai dunia dengan pasti.
    Cinta selalu dapat dikenal di dalam gagasan, ucapan, dan perbuatan orang yang mencintai, karena setiap ekspresinya terdapat kehangatan yang muncul sebagai keindahan, kelembutan, dan kehalusan. Hati yang terbakar oleh api cinta cenderung untuk melelehkan setiap hati yang dijumpainya. Cinta menghasilkan pesona pada pecinta sehingga sementara ia mencintai seseorang, semua mencintai pecinta itu. Magnetisme cinta dijelaskan oleh seorang penyair Hindustan: "Mengapa tidak semua hati dilelehkan menjadi tetesan-tetesan oleh api yang dipelihara hatiku sepanjang hidupku? Karena sepanjang hidup aku meneteskan air mata derita karena cinta, pecinta berkunjung ke kuburku penuh dengan air mata. "Untuk mengajarkan cinta, Nabi Isa berkata, "Aku akan membuatmu menjadi pemancing manusia." Jalaluddin Rumi berkata: "Setiap orang tertarik kepadaku, untuk menjadi sahabatku, tapi tak seorang pun tahu apa di dalam hatiku yang menariknya."

     Cinta itu alami dalam setiap jiwa. Semua pekerjaan dalam hidup, penting atau tak penting, dalam suatu cara cenderung ke arah cinta; karena itu tak seorang pun di dunia yang dapat disebut sepenuhnya tanpa cinta. Cinta adalah sesuatu yang dibawa setiap jiwa ke dunia, tetapi setelah tiba di dunia, orang berperan dalam semua kualitas tanpa cinta. Andai tidak, kita pasti sudah pahit, cemburu, marah, dan penuh kebencian ketika kita lahir. Bayi tak punya kebencian. Anak kecil yang kita sakiti, dalam beberapa menit akan datang dan memeluk kita. Mencintai, memuja seseorang yang berhubungan dengan kita baik dalam hal kelahiran, ras, kepercayaan atau hubungan duniawi lain, datang dari cinta jiwa. Kadang-kadang jatuh cinta pada pandangan pertama, kadang-kadang kehadiran seseorang menarik kita seperti magnet, kadangkadang kita melihat seseorang dan merasa, "Mungkin aku telah mengenalnya." Kadang-kadang kita berbicara dengan orang lain dan merasakan mudah memahami seolah-olah kedua jiwa saling mengenal. Semua ini berkaitan dengan 'pasangan jiwa.
     Hati yang tercerahkan dan cinta lebih berharga daripada semua permata di dunia. Ada berbagai macam hati sebagaimana adanya berbagai macam unsur di dunia. Pertama, hati dari metal perlu lebih banyak waktu dan lebih banyak api cinta untuk memanaskannya, setelah panas ia akan meleleh dan dapat dibentuk menurut kehendak ketika itu, namun kemudian menjadi dingin kembali. Kedua, hati yang terbuat dari lilin, yang segera meleleh ketika bersentuhan dengan api, dan bila mempunyai sumbu ideal, ia akan mempertahankan api itu hingga lilin habis terbakar. Ketiga, hati dari kertas yang dapat menyala dengan cepat ketika bersentuhan dengan api dan berubah menjadi abu dalam sekejap. Cinta itu seperti api. Nyalanya adalah pengorbanan, apinya adalah kearifan, asapnya adalah keterikatan, dan abunya adalah keterlepasan. Api muncul dari nyala, demikian pula kearifan yang muncul dari pengorbanan. Bila api cinta menghasilkan nyala, ia menerangi jalan, dan semua kegelapan lenyap. Bila daya-hidup bekerja di dalam jiwa, itu adalah cinta; bila bekerja di dalam hati, itu adalah emosi, dan bila bekerja di dalam tubuh, itu adalah nafsu. Karena itu orang yang paling mencinta adalah yang paling emosional, dan yang paling emosional adalah yang paling bernafsu, sesuai dengan dataran yang paling disadarinya. Bila ia bangkit di dalam jiwa, ia mencintai; bila bangkit di dalam hati, ia emosional; bila sadar akan tubuh, ia bernafsu. Ketiganya dapat digambarkan dengan api, nyala api, dan asap. Cinta adalah api di dalam jiwa, ia adalah nyala api bila hati dinyalakan, dan ia adalah asap bila ia menjelma melalui tubuh.
    Cinta pertama adalah bagi diri sendiri. Bila dicerahkan, orang melihat manfaatnya yang sejati dan ia menjadi orang suci. Tanpa cahaya pencerahan, manusia menjadi egois hingga ia menjadi setan. Cinta kedua diperuntukkan bagi lawan jenis kelamin. Bila demi cinta, ia bersifat surgawi; dan bila demi nafsu, ia bersifat duniawi. Bila cukup murni, cinta ini tentu dapat menghilangkan gagasan tentang diri sendiri, tetapi manfaatnya tipis dan bahayanya besar. Cinta ketiga diperuntukkan bagi anak-anak, dan ini merupakan pelayanan pertama bagi makhluk Allah. Memberikan cinta kepada anak-anak, adalah memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang dipercayakan oleh Pencipta, tetapi bila cinta ini meluas hingga mencakup seluruh ciptaan Allah, hal ini mengangkat manusia menjadi orang-orang pilihan Allah. Cinta orang tua kepada anak-anaknya jauh lebih besar daripada cinta akan-anak itu kepada orang tuanya, karena semua pemikiran penggunaan tua terpusat pada anak, tetapi cinta anak mula-mula terpusat pada diri sendiri. Muhammad s.a.w. ditanya seseorang, "Cinta siapa yang lebih besar, cinta anak-anak kepada orang tua mereka, atau cinta orang tua kepada anak-anaknya?" Beliau menjawab, "Cinta orang tua lebih besar, karena sementara melakukan semua hal, mereka berpikir bagaimana agar anaknya tumbuh dan bahagia, seolah-olah ia mengharap untuk hidup di dalam kehidupan anak-anaknya setelah ia mati; sementara anak-anak yang saleh berpikir bahwa suatu hari orang tuanya akan mati, dan dengan demikian mereka hanya sebentar dapat melayani orang tua mereka." Orang itu bertanya, "Cinta ayah atau ibu-kah yang lebih besar?" Nabi menjawab, "Ibu. Ia berhak memperoleh penghormatan dan pelayanan, karena surga terletak di bawah kakinya." Cinta orang tua adalah cinta yang paling diberkahi, karena cinta mereka sebening kristal.
    Tiada daya yang lebih besar daripada cinta. Semua kekuatan muncul ketika cinta bangkit di dalam hati. Orang berkata, "Ia berhati lembut, ia lemah," tetapi banyak orang yang tidak tahu kekuatan apa yang muncul dari hati yang menjadi lembut dalam cinta. Seorang serdadu bertempur di medan perang demi cinta kepada rakyatnya. Setiap pekerjaan yang dilakukan dalam cinta, dilakukan dengan seluruh daya dan kekuatan. Khawatir dan alasan, yang membatasi daya, tak mampu melawan cinta. Seekor induk ayam, meskipun sangat takut, dapat melawan seekor singa untuk melindungi anak-anaknya. Tiada sesuatu yang terlalu kuat bagi hati yang mencintai. Daya cinta menyelesaikan semua urusan dalam hidup sebagaimana daya dinamit yang mengalahkan dunia. Dinamit membakar segala sesuatu, demikian pula cinta: bila terlalu kuat ia menjadi roda pemusnah, dan segalanya menjadi salah dalam hidup pecinta. Itulah misteri yang menjadi penyebab penderitaan hidup seorang pecinta. Namun, pecinta itu mengambil manfaat dalam kedua kasus. Bila ia menguasai keadaan, ia seorang penguasa (master). Bila ia kehilangan semuanya, ia orang suci. Cinta mengatasi [berada di atas] hukum, dan hukum berada di bawah cinta. Keduanya tak dapat dibandingkan. Yang satu dari langit, yang satu dari bumi. Bila cinta mati, hukum mulai hidup. Maka, hukum tak pernah menemukan tempat bagi cinta, demikian pula cinta tak dapat membatasi diri dengan hukum; hukum itu terbatas, dan cinta itu tak berbatas. Seseorang tak dapat memberi alasan mengapa ia mencintai orang tertentu, karena tiada alasan bagi segalanya kecuali cinta. Tatkala seorang filosof sedang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik. Apa yang bisa dia katakan kepada gadis itu. Mungkin dia akan mengatakan "Logikaku tak pernah habis mengurai tubuhmu". Atau Wahai gadis, bisakah kita membuat sintesis psikologis yang menguntungkan?"  Atau Perempuan, bau rambutmu sangat mengganggu pikiranku. AKu ingin melumat tubuhmu hingga tak tersisa, biar nalarku kembali bekerja"  Atau mungkin dia akan berkata "kekasihku, kau telah runtuhkan logikaku, dan menyisakan senyawa cinta. Kurasa, aku telah jatuh cinta".

Inilah Yang Terjadi Terhadap Agama Dunia

Editor/Penulis : Subar98
    Beberapa penelitian pun telah dilakukan guna mencari sebab musabab krisis kepercayaan dari pengikut agama resmi tersebut, serta munculnya berbagai ajaran kebatinan. Dan hasil yang didapat pun beragam. Diantaranya seperti faktor akhak sosial, pemecahan persoalan yang cenderung didekati dengan pendekatan hukum semata (halal atau haram), atau pun reaksi-reaksi internal terhadap formalisme, dogmatisme atau kebekuan hirarkis yang terpolakan dalam agama-agama tersebut. Agama resmi saat ini tengah mengalami krisis kepercayaan dari para penganutnya. Praktek ajaran agama resmi dirasa terlalu menekankan pada ritualitas sehingga kurang memberikan kebermaknaan dalam beragama. Oleh karenanya, sebagian penganut agama resmi melirik pada aliran kepercayaan sebagai pengganti agama resmi mereka atau menganut keduanya, sebagai upaya menemukan makna dalam realitas kehidupan.
      Houston Smith menjelaskan bahwa krisis agama tersebut akan berujung pada masa depan agama itu sendiri. Agama sudah tidak menjadi bagian hidup orang banyak lagi, hanya menjadi bagian dari kehidupan manusia secara personal, itupun kalau dia religius. Lalu dimana fungsi agama saat ini? Ini adalah sebuah pertanyaan aksiologis materialistis mengenai agama. Dengan melihat konteks dunia, khususnya di Eropa pada awal abad ke 20, dimana kelaparan merajalela seperti yang terjadi di Jerman dan Italia yang membuat Fasisme bermunculan. Efek ini kemudian meluas lalu menjadi pemicu utama mainstream materialis dan seterusnya hedonis. Kondisi ini kemudian berlanjut sampai sekarang dimana Eropa dan Amerika sudah memiliki kemapanan ekonomi dan negara-negara berkembang sudah dalam proses transisi. Ada hal menarik pada zaman sekarang khusus dua dasawarsa terakhir. Manusia-manusia dinegara maju sudah mencapai titik jenuh dalam alam materialismenya.
     Kejenuhan ini berawal pada kondisi bahwa banyaknya materi ternyata tidak membawa kepuasan batin. Jalaluddin Rahmat mengatakan kondisi ketidak puasan batin (psikis) seperti ini membawa manusia kembali ke ranah agama. Seperti munculnya aliran psikologi transpersonal dalam dunia Psikologi dimana orang dalam mazhab ini dilatih untuk menajamkan aspek spiritualitasnya dalam mencapai kestabilan psikis dan menekan impuls-impuls negatif dalam dirinya. Berbagaimacam metode digunakan yang umumnya diambil dari agama seperti meditasi yang diambil dari Budha. Contoh lainnya adalah pertumbuhan pemeluk Islam yang semakin meningkat dari tahun ketahun. Harapan mendepan adalah agama akan kembali menjadi titik sentral dalam kehidupan manusia sehingga tidak akan ada lagi penindasan, perampasan, dan semacamnya. Karena konsep universalitas agama, terlepas dari klaim bahwa agamanya yang paling benar dari masing-masing pemeluk agama, adalah kasih sayang sesama manusia. Dengan demikian tatanan masyarakat dunia akan menjadi stabil serta kehidupan yang dijalani bisa dinikmati sacara batiniah. Karena itulah menurut Suciati, diperlukan upaya dakwah yang tepat bagi mereka. Upaya dakwah tersebut bisa dengan dakwah jama’ah dan dakwah kultural, seperti yang sudah dirancang oleh Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu.

Fenomena Inilah Yang Terjadi Dalam Diri Manusia

      Manusia atas Ketidaktahuan akan kebenaran  hukum sebab akibat  hidup ini dengan baik, maka diri berani melakukan hal yang buruk dengan sikap yang tak terpuji pada lingkungan yang akhirnya mengakibatkan diri terjerumus kedalam lumpur penderitaan yang tak putus-putus, karena ketidakpuasan akan kehidupan yang baik, maka diri berani melakukan kebodohan yang mengakibatkan diri terjerumus kedalam kesulitan ekonomi yang penuh duka kebingungan. Setiap kebijakan ada mengandung nilai hukum sebab akibat yang harus dipertanggung jawabkan oleh diri, maka dari itu, diri harus bisa sadari bahwa, jika mau hidup baik dan bahagia, diri harus tetap munculkan energi jiwa yang sadar dan yang positif didalam sekejap perasaan jiwa dengan sejuk dan damai penuh kedewasaan.
    Diri harus tekun belajar mendengar ajaran kehidupan dengan baik dan sungguh-sungguh agar jiwa senantiasa bisa jalankan perbaikan perilaku (moral) dan tindakan jadi lebih baik dan benar serta senantiasa menumpuk sebab baik dan baik. Dengan semakin mendengar dan belajar ditambah banyak mengalami benturan-benturan kesulitan ekonomi dan penderitaan lainnya,maka diri akan semakin yakin dan harus bertekat dan tekun belajar agar mau berubah jadi lebih baik dan pikiran jadi sehat dan makin terbuka. Sehingga akan terbentuk kepribadian yang lebih baik dengan moral yang  ramah dan ucapan yang santun. Lingkungan akan merasakan hawa perubahan dan tindakan yang baik dari diri kita,sehingga kemanapun kita akan terasa nyaman dan tenang. Itu adalah bukti bahwa kita  dan keluarga telah berubah dan jalankan kehidupan dengan baik.

Rabu, 07 Agustus 2019

Benarkah, Muhammadiyah Lambat Melakukan Kaderisasi Pemimpin Politik



Tak bisa dipungkiri Muhammadiyah memilih andil besar atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh Muhammadiyah sejak sebelum lahirnya republik ini telah berperan tanpa pamrih.

Filosofis yang diajarkan Ahmad Dahlan bukan hanya terimplementasi dalam bermuhammadiyah, akan tetapi dalam bernegara.

"Hidup-hidupi Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah," pesan kh ahmad dahlan.

Sayangnya semangat Ki Bagus Hadikusuma yang berhasil meramu keinginan Ahmad Dahlan kini mulai ditinggalkan. Bahkan, menurut Professor Bahtiar Effendy, telah dikhianati. Menurutnya, kini Muhammadiyah mengalami darurat Pemimpin politik.

Muhammadiyah lambat melakukan kaderisasi pemimpin politik. Bahkan dianggap kalah jauh dari saudaranya, NU. Berbeda dengan Muhammadiyah, NU sukses menempatkan kader-kadernya di dalam birokrasi.

Karenanya, menurut Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, Muhammadiyah jangan sampai 'sekuler'. Jangan berkutat pada pendefinisian Muhammadiyah hanya beramal sosial-agama tanpa melirik politik. Menurutnya, politik harus dijadikan sebagai amal usaha.

Pendapat beliau banyak benarnya. Kita saksikan saja panggung politik nasional maupun daerah lebih dikuasai kader-kader NU dan ormas Islam lainnya. Sebagai salah satu ormas Islam terbesar, harusnya Muhammadiyah memiliki peran yang lebih besar daripada sekarang.

Praktis hanya Amien Rais dan sekarang hanya ada Dahnil Anzar, Raja Juli, Ahmad Rofiq, kader Muhammadiyah yang berada di panggung politik nasional. Barangkali ada beberapa orang lagi, namun peran mereka tidak signifikan. Tidak mewarnai perpolitikan nasional.

Realitas itu juga tercermin di tingkat daerah. Kader-kader Muhammadiyah hanya berkutat pada kegiatan sosial dan keagamaan. Bukan berarti kegiatan itu buruk, namun demikian penting bagi kader Muhammadiyah mengambil peran di dalam politik.

PAN yang katanya sebagai tempat penyampaian aspirasi warga Muhammadiyah malah kurang diminati kader Muhammadiyah. Itu artinya PAN bukan partai yang dianggap ideal bagi kader Muhammadiyah.

Diakui atau tidak, dengan mengusung Islam berkemajuan, Muhammadiyah sudah jauh tertinggal dari ormas Islam lainnya. Kader-kader Muhammadiyah kurang 'menggigit' dalam percaturan politik nasional maupun daerah.

Bahkan ketika Luthfi Assyaukanie membeberkan hasil temuannya, sungguh sangat mencengangkan. Mengusung Islam berkemajuan, namun persentase kader Muhammadiyah yang berani mengaku sebagai Muhammadiyah pada publik sangat rendah.

Hal itu berbeda dengan kader-kader NU yang lebih berani mengaku sebagai anggota NU. Ada apa sebenarnya? Apakah kader Muhammadiyah tidak percaya diri jika mengaku pada publik dirinya Muhammadiyah? Jika iya, apa sebabnya?

Bisa jadi mereka enggan mengaku Muhammadiyah karena minimnya tokoh mereka berada dalam pemerintahan. Kembali lagi soal krisis pemimpin politik yang dicetak Muhammadiyah. Kader-kader Muhammadiyah harusnya lebih berani dan sering tampil di atas panggung politik.

Panggung perpolitikan nasional maupun daerah butuh sentuhan kader-kader Muhammadiyah agar lebih berwarna. Bahkan saat ini masyarakat lebih mengenal FPI ketimbang Muhammadiyah dalam politik nasional. Padahal sekolah dan universitas Muhammadiyah ada di mana-mana.

Coba kita perhatikan dalam dinamika politik pilpres dan pileg 2019 yang lalu. Jarang kita dapati kader-kader Muhammadiyah muncul kecuali ketika digoyang dana Kemenpora. Selain itu, praktis Muhammadiyah tidak berperan, termasuk aksi-aksi damai yang dilakukan umat Islam.

Kalaupun Muhammadiyah secara lembaga ingin menghindari politik, namun secara kader harusnya Muhammadiyah lebih proaktif. Tokoh sekaliber Ki Bagus Hadikusuma harusnya kembali hadir dalam perpolitikan nasional.

Keran demokrasi harusnya dimanfaatkan Muhammadiyah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin politik yang hebat. Jangan tidak percaya diri, jangan menutup diri dari kehidupan politik, baik secara nasional maupun daerah.

Muhammadiyah sepertinya stagnan bahkan terasa mengalami kemunduran. Kader-kader Muhammadiyah bersama NU dulunya menjadi bidan lahirnya Masyumi, Amien Rais mendirikan PAN, tahun 2006 kader-kader Muhammadiyah pernah mendirikan PMB (Partai Matahari Bangsa).

Tapi kini, kaderisasi mereka lemah. Bahkan di tingkat mahasiswa, kaderisasi IMM kalah jauh dari HMI, atau Pemuda Muhammadiyah kalah pamor dari GP Anshor. Muhammadiyah harusnya melihat redupnya kader-kader mereka di politik sebagai sebuah problem.

Muhammadiyah harus menemukan formula yang tepat agar kadernya kembali berkiprah. Politik dapat dijadikan ladang dakwah. Jangan takutlah berpolitik maupun masuk dalam partai politik. Menyitat pernyataan Prof.Dr. Bahtiar Effendy di awal tulisan, politik sebagai amal usaha.

Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, adalah Islam yang memberi sentuhan kemajuan dan kemodernan. Menurutnya, Islam modern, selain menumbuhkan nasionalisme, juga menumbuhkan kesadaran politik baru.

Melalui kadernya, Muhammadiyah harusnya menghadirkan wajah baru politik nasional. Politik untuk kemaslahatan bersama, menghadirkan realitas politik yang sesungguhnya. Bukan politik yang berkiblat pada kepentingan kelompok dan diri semata.

Muhammadiyah harus menjadi mesin produksi pemimpin politik. Kaderisasi pemimpin harus rutin dilakukan sehingga krisis pemimpin politik dapat teratasi. Haedar Nashir merasakan krisis pemimpin politik di dalam organisasinya. Karenanya, ia pernah menyerukan kepada kadernya agar aktif di partai politik.

Islam yang berkemajuan harusnya diimplementasikan kader-kader Muhammadiyah dalam segala bidang, termasuk politik. Islam yang berkemajuan mendorong kader Muhammadiyah menjadi tokoh politik yang antikorupsi, anti-penyalahgunaan kekuasaan, dan merangkul kemajemukan.

Konsep sehebat apa pun tanpa implementasi di lapangan hanya menjadi catatan di dalam laptop, gadget, maupun di atas kertas. Muhammadiyah harus mendakwahkan apa itu Islam yang berkemajuan dalam politik. Untuk itu, Muhammadiyah harus mencetak pemimpin politik sebanyak mungkin.

Perlukah Pemahaman Seksual di Pendidikan?

  Gambar merupakan ilustrasi   Tulisan: Subartono   Di era globalisasi ini terjadi krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks be...